Slide Show
 

COP 18: Selamatkan Rakyat, Turunkan Emisi, Hentikan Membakar Bumi

Pada 26 November – 7 Desember 2012 akan berlangsung KTT Perubahan Iklim di Doha Qatar. Dunia menjadi saksi meningkatnya krisis iklim. Mulai badai Sandy  di Amerika Serikat hingga banjir dan berbagai bencana lingkungan lainnya  yang makin rutin dan meluas di negara-negara Asia. Namun, para pemimpin Negara industri justru mempermainkan nasib penduduk bumi lewat ketidakpastian penurunan emisi, dan dukungan adaptasi bagi negara-negara berkembang dan miskin. Tak hanya menjadi batu sandungan dalam tiap KTT Iklim, yang membuat Kyoto Protokol periode pertama berakhir 2012 tanpa kesepakatan mandat penurunan emisi Negara Industri. Amerika Serikat berusaha membawa substansi negosiasi iklim ke dalam negosiasi informal di luar skema PBB - UNFCCC, melalui Major Economies Forum on Energy and Climate. Indonesia adalah salah satu anggotanya. Bagaimana nasib Keselamatan Penduduk bumi ke depan?



Pemanasan Global Ancam Pasokan Air"""
MP3EI, Ekonomi Hijau
ala Indonesia?
Cara Petani Beradaptasi dengan Iklim

Forum Masyarakat Sipil Indonesia Untuk Keadilan Iklim

E-mail Print PDF

Tentang CSF 

Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (Civil Society Forum for Climate Justice)  disingkat CSF - lahir atas konsensus bersama merespon isu perubahan iklim pada  21 Mei 2007. Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia memangdang penting konsolidasi antar mereka menghadapi COP 13/CMP 3 oleh UNFCCC pada 3-14 Desember 2007 di Bali Indonesia. Sepanjang COP 13, CSF lantas  mengorganisir sejumlah program dan kegiatan, juga sebelum dan paska COP 13, baik dalam maupun diluar sistem PBB. Saat ini, jumlah organisasi yang bergabung sekitar 50 organisasi.

CSF untuk Keadilam Iklim adalah forum terbuka bagi  pihak manapun untuk berkomitmen dan terlibat dalam forum, baik dari NGO maupun individu sepanjang sepakat dengan prinsip Keadilan Iklim.

Tujuan
Perubahan iklim adalah fakta dan tidak bisa dihindari. Masyarakat menjadi saksi terjadinya anomali iklim dan cuaca di seluruh penjuru negeri, sekaligus penerima dampak langsung atas fenomena tersebut. Perubahan iklim sebenarnya adalah potret ketidakasilan, pembangunan di negara-negara industri dengan negara berkembang dan miskin. Bukti kegagalan model pembangunan global yang rakus energi fosil dan sumbera daya hayati. Gagal memastikan keselamatan masyarakat global.


Celakanya usaha Usaha-usaha global selama duabelas tahun terakhir jelas berpindah dari  tuntutan Negara-negara industri harus bertanggung jawab dan merubah model global pembangunannya, menjadi Negara berkembang ikut bertanggung jawab, tapi terus menerus menjadi sumber pemasok bahan mentah Negara industri kaya,. Tak ada perubahan signifikan sejak Protokol Kyoto ditandatangani.  


Alasan-alasan di atas mendorong CSF memperjuangkan Keadilan Iklim dengan tujuan:
-  Menggalang dan membangun kesadaran publik atas dampak perubahan iklim di Indonesia
-  Memperkuat solidaritas antar CSO untuk menanggapi politik perubahan iklim dari tahap nasional, regional, dan internasional.
-  Memperkuat upaya adaptasi dan daya lenting masyarakat adalam menghadapi dampak perubahan iklim.
-  Menyediakan argumen kunci utama untuk mendahulukan minat komunitas rentan kepada pemerintah terkait dengan posisi politis mereka di UNFCCC.

Kegiatan
Di samping merespon isu-isu terkait dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di level nasional dan internasional, CSF juga berupaya mengarusutamakan bacaan lapang serta membumikan konteks Climate Justice di Indonesia. CSF juga berusaha menghubungkan antara masyarakat dengan pemerintah baik dalam perundingan-perundingan Nasional atau Internasional.

Pilar  HELP
Perubahan iklim merupakan salah satu bukti kegagalan model pembangunan global yang mengakibatkan pemiskinan, keterbelakangan, perusakan lingkungan dan ketidakadilan di negara-negara miskin dan berkembang. Untuk mendorong Keadilan Iklim CSF mempromosikan empat prinsip yang harus menjadi pegangan semua pihak yang dirangkum dalam HELP, yaitu :

Human Security
Human Security atau Keselamatan Manusia meliputi kebebasan, pemenuhan terhadap keamanan dan Hak Asasi Manusia. Hal itu termasuk hak atas keamanan pangan, mata pencaharian, ekonomi, sosial dan budaya, kesehatan, lingkungan, dan politik bagi laki-laki dan perempuan serta kelompok rentan.

Ecological Debt
Ecological Debt atau Utang ekologis merupakan utang akumulasi oleh Negara industry terhadap negara berkembang karena penjarahan sumber daya, penguasan dan perdagangan sumberdaya (resources) yang tidak adil baik secara ekonomi dan politik, yang mengakibatkan kerusakan ling kungan dan pencaplokan ruang hidup menjadi tempat pembuangan limbah.


Dalam konteks Indonesia, utang ekologis bias berdimensi antar pulau, ataupun antar Negara. Salah satu aspek utang ekologis adalah utang iklim.

Land Right
Land Right atau Hak atas Lahan merupakan Hak meyangkut kepemilikan sumber-sumber produksi, baik laut maupun daratan (akses dan kontrol),  juga konsepsi tenurial yang lebih luas, mencakup budaya dan kehidupan masyarakat.

Production Consumption Pattern
Pola Produksi dan konsumsi yang adil dan berkelanjutan merupakan prinsip yang mendorong pola pembangunan yang adil, mandiri dan berkelanjutan serta menjamin keselamatan laki-laki, perempuan serta kelompok rentan dari pola kapitalistik, penggunaan teknologi kotor, berisiko dan berskala besar.



Ke-4 pilar tersebut (H.E.L.P) menjadi basis analisis dari CSF dalam melihat berbagai kebijakan terkait perubahan iklim, baik di tingkat global, nasional, maupun lokal, serta dalam analisis potensi dampak dan implikasi dari kebijakan-kebijakan tersebut.


Anggota
Sejak dibentuk awal 2007 yang lalu, puluhan organisasi massa, ornop, serta lembaga-lembaga riset bergabung bersama CSF dan bersama-sama menyuarakan Climate Justice Now! yang merupakan seruan kolektif masyarakat sipil kepada delegasi negara-negara yang hadir. Saat ini, terdapat 29  organisasi yang bergabung; HuMa, IESR, AMAN, ICEL, FWI, WALHI, JATAM, IPPHTI, KIARA, SBIB, LATIN, KRKP, KPSHK, Telapak, Sawit Watch, RACA, KEHATI, Petak Danum, Bali Fokus, PELANGI, Solidaritas Perempuan, Satu Dunia, RMI, LEI, MPBI, IYF, Jangkar, DTE dan Nastari


Kontak Sekretariat

- Siti Maimunah (Koordinator CSF)
  Hp. +62811920462
  Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

- Ina Nisrina (Manajer Komunikasi dan Media)
  Hp. +6285277753686
  Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Alamat Sekertariat Civil Society Forum
Jl. Lengkeng Block J-5 Perumahan Kalibata Indah
Jakarta Selatan 12750 - Indonesia
Telp. 62-21-7989522
Fax. 62-21-7989543
Web Site: www.csoforum.net

 

 

Menu

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Publikasi

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday34
mod_vvisit_counterYesterday507
mod_vvisit_counterThis week1058
mod_vvisit_counterLast week3658
mod_vvisit_counterThis month11519
mod_vvisit_counterLast month15352
mod_vvisit_counterAll days762750

You are here: