Slide Show
 

CSF TERKINI

xbannerlaunching

Mai “Jebing”, Si Perekam Jejak

E-mail Print PDF

Ia kerap disapa sebagai Mae meski berulang kali ia koreksi. ”Mai, Mai ’Jebing’, begitu Ibu memanggilku. Jebing dalam bahasa Madura artinya ’anak perempuan’,” ujar Mai yang petang itu mengenakan penutup kepala dari kain lokal berwarna cerah, dandanan khas yang membuat Mai segera dikenali di antara kerumunan


Mai se.ring secara tak terduga muncul di tempat-tempat yang ”tak umum”, di pojok-pojok kampung pulau-pulau di timur Indonesia yang mengalami penghancuran oleh eksploitasi tambang. Dia tak gentar bersuara lantang. Mai adalah salah satu inisiator South-South Film Festival tentang tambang kerusakan lingkungan.


Aktivismenya kini pindah ke masalah perubahan iklim bersama para aktivis yang tergabung dalam Civil Society Forum. Bagi Mai, tak sulit menghubungkan dampak perubahan iklim dengan kehancuran lingkungan karena tambang dan nasib komunitas lokal.


Tempat main dirusak


Persinggungan Mai dengan masalah daya rusak tambang berawal ketika muncul rencana pertambangan emas di tempatnya ”bermain” di Taman Nasional Meru Betiri, Jember, Jawa Timur, tempat yang membuatnya jatuh cinta pada alam. ”Aku marah sekali, padahal ayahku makelar emas,” kenang Mai.


Upaya mengumpulkan informasi tentang pertambangan emas mempertemukannya dengan Chalid Muhammad, Koordonator Jatam, yang pada tahun 1997-1999 sibuk mengurus masalah pencemaran di Buyat akibat penambangan emas Newmont.


Pada tahun 1999 itu tercatat ada 150-an kasus tambang di hutan lindung. ”Aku ditantang membantu, dari dua minggu sampai satu tahun di Jakarta, malah disuruh belajar di Mineral Policy Institute di Australia. Habis itu, terus deh…,” kenang Mai.


Dengan tekun Mai merekam kondisi masyarakat akibat daya rusak tambang. ”Menulis dan menyuarakannya akan menjadi masa depanku,” ujar anak pertama dari empat bersaudara yang sangat produktif menulis itu.


Cita-cita masa kecilnya menjadi polwan pupus sudah. Semakin tajamnya pemahaman Mai tentang keterkaitan militerisme, pertambangan, dan pelanggaran HAM membuat Mai bahkan malu mengenang bagaimana ia merasa gagah menodongkan pistol dengan pakaian polwan dalam suatu karnaval anak.


Mai melepas perhiasan emasnya ketika menyadari sisi gelap emas. ”Untuk 1 gram emas dibuang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing serta 5,8 kilogram emisi beracun, termasuk 260 gram timbal, 6,1 gram merkuri, dan 3 gram sianida yang diwariskan kepada penduduk lokal dan lingkungan sekitar,” ujarnya.


Penampilannya yang sederhana pernah membuat Mai ditahan petugas imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta sepulang dari suatu pertemuan internasional. ”Aku dikira TKW salah jalur, he-he-he….”  (MH/ISW)


Kompas, 9 Oktober 2011

Last Updated ( Monday, 10 October 2011 07:28 )  

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday325
mod_vvisit_counterYesterday502
mod_vvisit_counterThis week2594
mod_vvisit_counterLast week3200
mod_vvisit_counterThis month8399
mod_vvisit_counterLast month10789
mod_vvisit_counterAll days338723

You are here: