Sejak tahun lalu, OAT dan masyarakat adat tiga Batu Tungku didukung kelompok masyarakat sipil lainnya, baik di wilayah dan nasional telah berupaya mempromosikan usaha mandiri mengamankan keamanan dan kedaulatan pangan.
Meningkatnya Risiko Perubahan Iklim Akibat Industri Ekstraktif
Belajar dari Sistem Kelola Masyarakat Adat Molo
(JATAM 2011)
Pemanasan global berdampak pada terjadinya kenaikan suhu bumi, Akibatnya, terjadi ketergangguan atau hilangnya keseimbangan ekologis. Naiknya suhu permukaan bumi sa;ah satunya menyebabkan musim tidak lagi dapat diprediksi. Fenomena di mana musim penghujan cenderung menjadi lebih pendek dengan curah yang lebih tinggi, dan musim kemarau yang menjadi lebih panjang, telah mengakibatkan peningkatan ancaman bencana seperti banjir, badai topan, badai siklon tropis, endemic, kekeringan, El Nino, tsunami dan berbagai ancaman bencana lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan, lingkungan, pertanian dan pangan serta kelangsungan makhluk hidup.
Pemanasan global lebih disebabkan oleh konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari aktifitas manusia. Terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta kegiatan lain yang berhubungan dengan pembukaan hutan, pertanian, dan peternakan. Civil Society Forum untuk (CSF) Keadilan Iklim menyebutkan bahwa pemansan global disebabkan semakin padatnya bahan pencemar seperti CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs, dan SF6, yang berasal dari bahan bakar fosil; batu bara, minyak bumi, dan gas.
Selain itu, eksploitasi bahan energi fosil juga menghasilkan persoalan tersendiri. Buruknya sistem pemanfaatan sumber daya alam telah megorbankan hutan, sumber air, bentang alam hingga lahan, yang kemudian berdampak pada kehidupan amsyarakat sekitar. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyatakan, industri tambang (mineral dan energi) di selurih tahap pengembangan operasinya memiliki kemampuan atau daya rusak yang luas. Tidak hanya fisik atau satu satu kesatuan ekosistem, namun juga merusak tatanan sosial, ekonomi dan budaya.
“Praktek industri ekstraktif bergandeng lurus dengan proses terjadinya bencana ekologis. Menurunnya fungsi ekologis, terganggunya sistem sosial dan budaya akibat praktek pertambangan, memicu meningkatnya risiko bencana“.
Wilayah Timor Tengah Selatan adalah rumah bagi masyarakat adat Amanatun, Amanuban dan Mollo. Mereka menamakan keastuannya sebagai masyarakat adat Tiga Batu Tungku. Sekitar 18 ribu keluarga mendiami kawasan ini, sekitar 90 persen lebih hidup sebagai petani sisanya, nelayan, pedangang dan mata pencaharian lainnya.
Di bagian atas hingga pesisir, kawasan ini memiliki kekayaan alam yang unik seperti hutan tropis, air, padang penggembalaan, Gunung batu, batu warna, margasatwa, ikan, tripang dan lainnya. Kawasan hulu dan hilir ini terhubung satu sama lain mengingat, hulu adalah kawasan tangkapan air yang dibutuhkan bagi pertanian di kawasan hilir, lahan produksi pangan dan jagung.
Sayangnya, sejak lama kawasan hulu terganggu. Pada 1982, proyek reboisasi dan Hutan Tanaman Industri (HTI) besar-besaran terjadi di kabupaten TTS seperti Bonleu, Tune, Lelobatan, Nefokoko, Tobu, Tutem, binaus, oelbubuk, kualeu, hane, boentuka. Banyak hutan lokal dengan tanman-tanaman jati dan mahoni tergusur.
Pada 1987, masyarakat adat TTS mulai mengalami kekurangan pangan, khususnya wilayah hilir seperti toineke, tuafanu, oebelo, noemuke karena terjadi banjir, sedangkan dimollo (hulu) perlahan-lahan sumber-sumber air menjadi kurang. Bahkan ada yang mulai mengering seperti lelobatan, nefokoko tobu dan tutem hane dan benlutu. Akibatnya, pangan juga berkurang. Ancaman-ancaman diatas terus berlangsung dari tahun berganti tahun, hutan mulai menipis, lahan pertanian mulai menipis sehingga berimplikasi terhadap peyediaan lahan pertanian dan air serta terganggunya ketersediaan.
Tak hanya itu, pembangunan yang tak memperhatikan dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan jugaterus berlangsung bersamaan di wilayah masyarakat adat. Diantaranya, ijin pertambangan marmer, mangan, MIGAS, Emas, Nikel dan seterusnya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat adat berupaka melindungi, memulihkan dan mengembangkan kedaulatan panganbersama kelestarian lingkungan pada tiap-tiap wilayah, sebagai prasyarat produksi pangan. Upaya ini akan menguatkan upaya penyelamatan ritual adat, kekurangan debit air, menipisnya hutan, adanya erosi dan terjadinya pengikisan pada daerah aliran sungai dan abrasi di pesisir.
Pada 2000, secara perlahan-lahan musim berubah, termasuk musim tanam yang membuat kekurangan panen berjalan setiap tahun. Pada 2009, di kawasan hilir terjadi kekeringan sedangkan di bagian hulu hujan berjalan seperti biasa. Tahun berikutnya, wilayah Amanuban bagian pesisir dan Amanatun sama sekali tidak bisa tanam karena curah hujan tidak cukup. Tahun ini malah curah hujan yang berlebihan dan tidak ada musim kemarau. Alibatnya, tiga tahun terakhir masyarakat mengalami krisis pangan luar biasa. Hal ini mengancam kesehatan keluarga khususnya untuk anak-anak sekolah dan balita.
Sejak tahun lalu, OAT dan masyarakat adat tiga Batu Tungku didukung kelompok masyarakat sipil lainnya, baik di wilayah dan nasional telah berupaya mempromosikan usaha mandiri mengamankan keamanan dan kedaulatan pangan. Salah satunya melalui Festival Ningkam Haumeni, 16-17 Agustus 2010 di Naususu. Sebuah festival yang digelar untuk merayakan dan mempromosikan pentingnya upaya kembali ke adat dan memanfaatkan kekayaan lokal menuju kemandirian. Ratusan warga dari puluhan kampung di sekitar pegunungan Mutis terlibat dalam lomba rumah adat Lopo dan tenun, untuk mengembalikan lagi identitas adat stempat. Tak hanya itu, serangkaian diskusi digelar untuk menigkatkan pengetahuan penyelamatan adat, lingkungan dan pangan. Masyarakat merasakan manfaat festival ini.
Festival Ningkam Haumeni, merupakan sebuah gerakan masyarakat yang ingin meninggalkan pilihan ekonomi yang merusak, seperti tambang, Hutan Tanaman Industri yang telah membuat mereka menderita cukup lama. Dan mereka datang mempromosikan pilihan ekonomi yang aman, berkelanjutan dan berdaulat – ekonomi tanpa tambang.
Festival Ningkam haumeni kedua akan dilakukan 27-29 Mei 2011 di Gunung Batu Nausus. Semangat Fatival tahun ini adalah mengajak dan menyerukan seluruh warga khususnya masyarakat adat secara perlahan-lahan memulihkan kembali kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang merusak dan mengancam pangan, memulihkan tradisi kedaulatan pangan yang dilakukan nenek moyang mereka, warisan bagi generasi Atoin Meto sekarang. Bergam kegiatan akan digelar, mulai Teater, Drama, Puisi, Tari-tarian, dan Lagu-lagu rakyat adalah merupakan suatu cara untuk menyongsong keberhasilan-keberhasilan produksi pangan yang selalu dilakukan oleh masyarakat adat Atoin Meto Timor sejak awal mereka mengenal pangan.





















