Slide Show
 

CSF TERKINI

xbannerlaunching

Dari Pantai Manggar, Penyelamatan Lingkungan Itu Disuarakan

E-mail Print PDF
Dewa Ruci, good ship. This kite is good. Who’s made?” Robert, warga Selandia Baru, melontarkan kata-kata itu saat melihat layang-layang Kapal Dewa Ruci bergambar bunga anggrek hitam dengan motif ukiran dayak menari-nari di atas Pantai Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (21/2).
Tidak hanya Robert, sebagian besar peserta lain, mulai dari pelajar 60 sekolah, utusan organisasi sosial, hingga warga negara asing dari 15 negara yang menjadi peserta Festival Layang-layang Internasional Kalimantan itu, juga berkomentar serupa. ”Saya senang layang-layang Dewa Ruci. Festival ini menyenangkan,” kata mereka.
Pantai Manggar kemarin dimeriahkan ribuan layang-layang tradisional yang dimainkan pelajar dan ratusan lainnya yang merupakan kreativitas peserta festival. Sebagian besar menampilkan model manusia dan satwa, seperti orang yang berpakaian adat Madura, Jawa, Papua, Betawi, dan ninja, serta beruang madu, singa, gurita, burung kakatua, ular, ikan pari, hiu, dan kura-kura.
Model layang-layang lainnya, antara lain, adalah sepeda, kapal, dan lampion.
Ukuran layang-layang bervariasi, mulai dari yang panjangnya kurang dari 1 meter sampai 5 meteran.
Kampanye
Festival yang dilangsungkan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-113 Kota Balikpapan itu tak hanya bertujuan mengajak warga bergembira, tetapi sekaligus dijadikan ajang kampanye mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama terkait pemanasan global.
Mengenai layang-layang Dewa Ruci yang mendatangkan decak kagum banyak orang, Letnan Satu (Pelaut) Budianto dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan mengatakan, pihaknya memerlukan waktu sekitar dua bulan untuk pembuatannya.
Layang-layang itu berukuran panjang 5 meter dan tinggi sekitar 3 meter dengan layar bertingkat empat. ”Biayanya sekitar Rp 5 juta,” kata Budianto seraya menambahkan, kerangka layang-layang dibuat dari aluminium, sedangkan layarnya dari kain parasut.
Untuk bisa terbang, menurut Budianto, diperlukan 12 orang. ”Ini hasil kreasi pertama saya. Saya hanya mencoba-coba untuk ikut festival,” ujarnya.
Layang-layang dengan barisan manusia berpakaian adat Madura milik H Santo, warga Balikpapan, yang dimainkan Sukar sebenarnya tidak kalah menarik. Namun, jika dibandingkan dengan layang-layang Dewa Ruci, jumlah penggemarnya bisa dibilang kalah.
Tak hanya itu yang ditampilkan grup pencinta layang-layang bernama Pelangi milik Santo. Mereka juga menerbangkan barisan lebih dari 20 layang-layang kura-kura.
”Selain ingin melihat berbagai kreativitas sejumlah negara, kami ke sini karena ikut terpanggil untuk berpartisipasi dalam kampanye cinta lingkungan,” kata Santo.
”Yang membuat peserta dari Indonesia cukup bangga adalah karya bangsa sendiri tidak kalah dengan layang-layang dari luar negeri. Padahal, sebagian besar biaya pembuatan layang-layangnya, seperti motif berpakaian adat Madura dan kapal Dewa Ruci, hanya sekitar Rp 5 juta,” kata Sukar.
Biaya pembuatan itu jauh di bawah layang-layang yang ditampilkan peserta dari luar negeri, seperti ikan hiu, yang mencapai Rp 35 juta.
Terlepas dari soal harga, yang pasti ribuan pelajar Balikpapan beserta orangtua dan guru mereka mendapatkan pelajaran soal lingkungan yang berharga di Pantai Manggar tersebut.(M Syaifullah)

Dewa Ruci, good ship. This kite is good. Who’s made?” Robert, warga Selandia Baru, melontarkan kata-kata itu saat melihat layang-layang Kapal Dewa Ruci bergambar bunga anggrek hitam dengan motif ukiran dayak menari-nari di atas Pantai Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (21/2).

Tidak hanya Robert, sebagian besar peserta lain, mulai dari pelajar 60 sekolah, utusan organisasi sosial, hingga warga negara asing dari 15 negara yang menjadi peserta Festival Layang-layang Internasional Kalimantan itu, juga berkomentar serupa. ”Saya senang layang-layang Dewa Ruci. Festival ini menyenangkan,” kata mereka.

Pantai Manggar kemarin dimeriahkan ribuan layang-layang tradisional yang dimainkan pelajar dan ratusan lainnya yang merupakan kreativitas peserta festival. Sebagian besar menampilkan model manusia dan satwa, seperti orang yang berpakaian adat Madura, Jawa, Papua, Betawi, dan ninja, serta beruang madu, singa, gurita, burung kakatua, ular, ikan pari, hiu, dan kura-kura.

Model layang-layang lainnya, antara lain, adalah sepeda, kapal, dan lampion.

Ukuran layang-layang bervariasi, mulai dari yang panjangnya kurang dari 1 meter sampai 5 meteran.

Kampanye
Festival yang dilangsungkan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-113 Kota Balikpapan itu tak hanya bertujuan mengajak warga bergembira, tetapi sekaligus dijadikan ajang kampanye mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama terkait pemanasan global.

Mengenai layang-layang Dewa Ruci yang mendatangkan decak kagum banyak orang, Letnan Satu (Pelaut) Budianto dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan mengatakan, pihaknya memerlukan waktu sekitar dua bulan untuk pembuatannya.

Layang-layang itu berukuran panjang 5 meter dan tinggi sekitar 3 meter dengan layar bertingkat empat. ”Biayanya sekitar Rp 5 juta,” kata Budianto seraya menambahkan, kerangka layang-layang dibuat dari aluminium, sedangkan layarnya dari kain parasut.

Untuk bisa terbang, menurut Budianto, diperlukan 12 orang. ”Ini hasil kreasi pertama saya. Saya hanya mencoba-coba untuk ikut festival,” ujarnya.

Layang-layang dengan barisan manusia berpakaian adat Madura milik H Santo, warga Balikpapan, yang dimainkan Sukar sebenarnya tidak kalah menarik. Namun, jika dibandingkan dengan layang-layang Dewa Ruci, jumlah penggemarnya bisa dibilang kalah.

Tak hanya itu yang ditampilkan grup pencinta layang-layang bernama Pelangi milik Santo. Mereka juga menerbangkan barisan lebih dari 20 layang-layang kura-kura.

”Selain ingin melihat berbagai kreativitas sejumlah negara, kami ke sini karena ikut terpanggil untuk berpartisipasi dalam kampanye cinta lingkungan,” kata Santo.

”Yang membuat peserta dari Indonesia cukup bangga adalah karya bangsa sendiri tidak kalah dengan layang-layang dari luar negeri. Padahal, sebagian besar biaya pembuatan layang-layangnya, seperti motif berpakaian adat Madura dan kapal Dewa Ruci, hanya sekitar Rp 5 juta,” kata Sukar.

Biaya pembuatan itu jauh di bawah layang-layang yang ditampilkan peserta dari luar negeri, seperti ikan hiu, yang mencapai Rp 35 juta.

Terlepas dari soal harga, yang pasti ribuan pelajar Balikpapan beserta orangtua dan guru mereka mendapatkan pelajaran soal lingkungan yang berharga di Pantai Manggar tersebut.(M Syaifullah)

 

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday137
mod_vvisit_counterYesterday486
mod_vvisit_counterThis week1736
mod_vvisit_counterLast week3302
mod_vvisit_counterThis month3637
mod_vvisit_counterLast month13639
mod_vvisit_counterAll days298743

You are here: