Slide Show
 

COP 18: Selamatkan Rakyat, Turunkan Emisi, Hentikan Membakar Bumi

Pada 26 November – 7 Desember 2012 akan berlangsung KTT Perubahan Iklim di Doha Qatar. Dunia menjadi saksi meningkatnya krisis iklim. Mulai badai Sandy  di Amerika Serikat hingga banjir dan berbagai bencana lingkungan lainnya  yang makin rutin dan meluas di negara-negara Asia. Namun, para pemimpin Negara industri justru mempermainkan nasib penduduk bumi lewat ketidakpastian penurunan emisi, dan dukungan adaptasi bagi negara-negara berkembang dan miskin. Tak hanya menjadi batu sandungan dalam tiap KTT Iklim, yang membuat Kyoto Protokol periode pertama berakhir 2012 tanpa kesepakatan mandat penurunan emisi Negara Industri. Amerika Serikat berusaha membawa substansi negosiasi iklim ke dalam negosiasi informal di luar skema PBB - UNFCCC, melalui Major Economies Forum on Energy and Climate. Indonesia adalah salah satu anggotanya. Bagaimana nasib Keselamatan Penduduk bumi ke depan?



Pemanasan Global Ancam Pasokan Air"""
MP3EI, Ekonomi Hijau
ala Indonesia?
Cara Petani Beradaptasi dengan Iklim

Klipping

Menginjak Hak Ibu Bumi

E-mail Print PDF
KOMPAS.com - Suronto (54), petani Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/2/2013), mengatakan, angin ribut lima hari sebelumnya merusak 2 hektar dari 3 hektar sawahnya. Suronto membayangkan penghasilan Rp 84 juta. Namun, dia hanya bisa menerima Rp 65,1 juta.
Kalimantan Tengah yang dulu tak pernah banjir, kini terendam hingga 50 sentimeter akibat rusaknya daerah tangkapan di hulu.
Januari lalu, sedikitnya 20.000 domba di Australlia terbakar akibat gelombang panas yang melintasi benua. Suhu udara mencapai 40 derajat celsius, bahkan bisa mencapai 50 derajat celsius.
Cuaca buruk akibat gelombang dingin dari Rusia menyapu Timur Tengah, mengakibatkan banjir dan badai salju di kawasan gurun. Jordania disiram salju hingga ketebalan 30 sentimeter.
Di Amerika Serikat, tahun 2012 adalah tahun terpanas sepanjang catatan meteorologis yang mengakibatkan 3,7 juta lahan terbakar. Di Semenanjung Antartika, data galian inti es di James Ross Island, yang dilaporkan Nature Geoscience pekan lalu, menunjukkan, laju meleleh lapisan es mencapai rekor tertinggi dalam 100 tahun terakhir. Suhu lapisan es mencapai ”suhu rentan”, kenaikan suhu meski sedikit akan melelehkan es.
Berdasarkan riset Zoological Society of London, hampir seperlima spesies reptil dari sekitar 9.500 spesies di dunia akan punah, antara lain, karena pemanasan global selain kerusakan lingkungan. Naiknya suhu bumi memengaruhi kecenderungan jenis kelamin dan ukuran hewan.
Reptil, seperti kura-kura, penyu, ular, kadal, dan buaya, serta hewan amfibi merupakan indikator lingkungan, termasuk perubahan iklim.
Studi oleh Tyndall Centre for Climate Change Research di University of East Anglia, Inggris, memperingatkan, tingkat kenaikan emisi gas karbon, sebagai gas utama gas rumah kaca, meningkat pada level yang mengarah pada kenaikan suhu 4-6 derajat celsius pada akhir abad ini. Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, 2009, merekomendasikan batas ambang kenaikan suhu 2 derajat celsius. Itulah ”Wajah-wajah Perubahan Iklim”, tema Hari Bumi Internasional.
Hak Ibu Bumi
Nasib Ibu Bumi terus merana. Bahan bakar fosil, mulai dari batubara hingga minyak, terus-menerus dikuras dari perut Ibu Bumi, menyisakan kerusakan lahan dan ekosistem, mengakibatkan bencana dan putusnya rantai kehidupan.
Paradigma pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi telah menafikan ”kesejahteraan”. Paradigma ”pembangunan berkelanjutan” yang diperkenalkan Komisi Brundtland tak mewujud.
Konferensi global tentang perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan terus berlangsung, yang berimplikasi penghamburan emisi—yang dijawab dengan ”offset” (”kompensasi”) yang tak relevan.
Gerah dengan pembangunan dunia yang semakin merusak, Konferensi Masyarakat Dunia tentang Perubahan Iklim dan Hak-hak Ibu Bumi (World People’s Conference on Climate Change and the Rights of Mother Earth) di Bolivia pada April 2010 melahirkan Deklarasi Hak-hak Ibu Bumi.
Pantas digarisbawahi salah satu butirnya menyebutkan, ”Hak setiap ’makhluk’ (Ibu Bumi termasuk di dalamnya sebagai ’living being’) dibatasi oleh hak-hak dari ’makhluk’ lain dan setiap konflik yang terjadi harus diselesaikan dengan bertujuan mempertahankan integritas, keseimbangan, kesehatan Ibu Bumi.”
Poin lain, pernyataan bahwa ”perburuan kesejahteraan (wellbeing) manusia harus berkontribusi pada kesejahteraan Ibu Bumi, sekarang dan di masa depan.”
Korbankan kesejahteraan
Dari berbagai ilustrasi di awal tulisan, nyata betapa perburuan kesejahteraan manusia telah mengorbankan kesejahteraan Ibu Bumi. Hitungan nominal hasil dari ”pertumbuhan ekonomi” luput disandingkan dengan hitungan nominal untuk membangun kembali kehidupan yang rusak akibat bencana—yang semakin masif dampaknya.
Potret sekilas, berapa nilai nominal ekspor batubara dari tanah Kalimantan? Apakah sebanding dengan nilai nominal yang harus dibayarkan untuk mengembalikan kehidupan penduduk yang terkena bencana. Atau sengaja tidak dihitung? Toh, biaya perbaikan rumah dan penggantian perabot rusak tidak ditanggung oleh pemerintah.
Padahal, pemberi izin pertambangan batubara adalah pemerintah yang sering kali tak melibatkan penduduk lokal.
Mantan menteri yang mengurus lingkungan hidup, Emil Salim, selalu menegaskan, ”Pembangunan yang berlangsung tak memasukkan biaya sosial dan biaya lingkungan.”
Ketika orangutan dan gajah mati akibat pembukaan lahan untuk pertambangan atau perkebunan, apakah itu tergantikan? Apakah pohon-pohon berusia puluhan dan ratusan tahun yang ditebang habis bisa tergantikan? Lalu, rantai kehidupan di dalam ekosistem? Masalah-masalah itu tak pernah muncul dalam narasi pembangunan yang memburu pertumbuhan ekonomi.
Indonesia dengan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang bermuara pada pengurasan batubara, mineral, dan migas berada di hulu rantai perusakan Ibu Bumi dan semua ”living being”.
Hak-hak Ibu Bumi telah diinjak-injak tanpa pemahaman bahwa itu hanya bermakna tunggal: semakin buruknya ”wajah-wajah...”, rusaknya rahim Ibu Bumi, yang berujung pada hilangnya kehidupan.
Oleh BRIGITTA ISWORO LAKSMI
Sumber :Kompas Cetak
Editor :yunan

KOMPAS.com - Suronto (54), petani Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/2/2013), mengatakan, angin ribut lima hari sebelumnya merusak 2 hektar dari 3 hektar sawahnya. Suronto membayangkan penghasilan Rp 84 juta. Namun, dia hanya bisa menerima Rp 65,1 juta.

Read more...
 

Mama Aleta raih "Goldman Environmental Prize 2013"

E-mail Print PDF
Jakarta (ANTARA News) - Seorang perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Aleta Baun, atau yang juga dikenal dengan sebutan "Mama Aleta", meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013".
"Perempuan yang berasal dari Desa Naususu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, ini mendapat penghargaan atas upaya penyelamatan lingkungan, sosial, dan budaya masyarakat Mollo," kata perwakilan Goldman Environmental Prize 2013 di Indonesia, Dita Ramadhani, di Jakarta, Senin.
Dita menjelaskan, para pemenang akan menerima anugerah itu dalam upacara yang khusus untuk undangan di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, pada 15 April 2013 pukul 07.00 waktu setempat (Senin sore WIB).
Yayasan Lingkungan Hidup Goldman, lanjut Dita, mengumumkan nama enam penerima hadiah Lingkungan Hidup Goldman 2013 yang merupakan kelompok para pemimpin yang tanpa rasa takut melawan semua rintangan demi melindungi lingkungan hidup dan komunitas mereka.
Mama Aleta terpilih atas upayanya menggerakkan massa sejak 1996 melawan dua perusahaan tambang yang hendak menguasai bukit sakral bagi orang Mollo.
Perjuangan Mama Aleta dan masyarakat Mollo selama 11 tahun akhirnya membuahkan hasil pada 2007 dengan dihentikannya operasional tambang di daerah tersebut.
Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut "protes sambil menenun", dan perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor, pun bisa dicegah.
Hadiah Lingkungan Hidup Goldman, yang saat ini memasuki tahun ke-24, diberikan setiap tahun kepada para pahlawan lingkungan hidup, dan masing-masing mewakili enam kawasan besar di dunia.
Dengan uang tunai 150.000 dolar AS bagi tiap penerima penghargaan, hadiah itu merupakan hadiah terbesar untuk aktivisme lingkungan hidup di tingkat akar rumput.
Penghargaan Lingkungan Hidup Goldman didirikan pada 1989 oleh tokoh-tokoh masyarakat dan dermawan seperti Richard dan Rhoda Goldman dari San Francisco.
Para pemenang dipilih oleh suatu dewan juri internasional berdasarkan nominasi rahasia yang diserahkan oleh suatu jaringan kerja organisasi-organisasi dan orang-orang dalam bidang lingkungan hidup.
Selain Mama Aleta, penghargaan diberikan kepada Jonathan Deal (Afrika Selatan), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), Kimbely Wasserman (AS), dan Nohra Padilla (Kolombia).
Editor: Ella Syafputri

Jakarta (ANTARA News) - Seorang perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Aleta Baun, atau yang juga dikenal dengan sebutan "Mama Aleta", meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013".

 

Read more...
 

Pencairan Es Antartika 10 Kali Lebih Dahsyat Dalam 50 Tahun

E-mail Print PDF
BISNIS.COM, CANBERRA - Pencairan es pada musim panas di Antartika saat ini mencapai yang tertinggi dalam seribu tahun, kata peneliti dari Australia dan Inggris pada Senin (15/4/2013).
Itu bukti baru pengaruh pemanasan global pada lapisan es peka di Antartika.
Peneliti dari Universitas Nasional Australia dan Penelitian Antartika - Inggris, menurut laporan Reuters, memperoleh data yang diambil dari inti es, menunjukkan pencairan es musim panas terjadi 10 kali lebih dahsyat dalam 50 tahun terakhir, dibandingkan 600 tahun yang lalu.
"Ini bukti kuat bahwa perubahan iklim telah membuat perubahan di Antartika," kata kepala peneliti Nerilie Abram.
Abram dan tim mengebor sedalam 364 meter mencapai inti es di Pulau James Ross, di ujung utara semenanjung Antartka untuk mengukur sejarah suhu dan membandingkannya dengan tingkat pencairan es pada musim panas di kawasan tersebut.
Mereka menemukan bukti bahwa suhu es naik secara perlahan sebanyak 1,6 derajat selama 600 tahun dan pencairan es rata-rata menjadi lebih kuat dalam 50 tahun terakhir.
Ini menunjukkan bahwa pencairan es dapat meningkat secara dramatis tergantung cuaca saat suhu mencapai titiknya.
"Pada saat cuaca mencapai tingkat pencapaian di atas nol derajat, jumlah lelehan yang akan terjadi adalah sangat peka menghadapi kenaikan suhu yang mungkin terjadi," kata Abram.
Robert Mulvaney dari Penelitian Antartika - Inggris mengatakan, pencairan es terbesar mungkin menjadi penyebab kehilangaan glasier dan longsornya lapisan es Antartika dalam 50 tahun terakhir. Hasil penelitian tersebut disiarkan di jurnal Nature Geoscience.
Sumber : Newswire/Antara
Editor : Fajar Sidik

BISNIS.COM, CANBERRA - Pencairan es pada musim panas di Antartika saat ini mencapai yang tertinggi dalam seribu tahun, kata peneliti dari Australia dan Inggris pada Senin (15/4/2013).
Itu bukti baru pengaruh pemanasan global pada lapisan es peka di Antartika.

 

Read more...
 

Dunia Bersiap Hadapi Kekeringan

E-mail Print PDF

Bencana kekeringan tidak hanya mengancam penduduk miskin di negara berkembang. Negara maju juga menghadapi risiko yang sama.Dalam beberapa tahun terakhir, kekeringan telah menimpa sejumlah negara seperti Australia, Brasil, Djibouti, Eropa tenggara, Meksiko, Rusia, Somalia, Spanyol dan Amerika Serikat.

Read more...
 

torong besi, hilangnya penanda musim

E-mail Print PDF
Dulu, warga Gincu bisa menebak kapan datangnya hujan ataupun kemarau hanya dengan memandang  puncak Torong Besi. Namun kini gugusan perbukitan itu telah dihancurkan dan disulap menjadi kawasan tambang. Warga hanya menerima getah dari keserakahan perusahaan tambang dan pemerintah.
Torong itu dulunya penanda. Setidaknya bagi warga Gincu, sebuah perkampungan di pesisir Manggarai.  Pertanda  kapan sang langit bersedia membagi air, dan angin barat mulai surut. Dua pertanda yang dipakai petani untuk mulai menyiapkan lahan dan nelayan kembali melaut.
Kampung Gincu pas pada kaki sebuah tanjung di pesisir utara Manggarai.  Penduduk kampung itu sebagian besar nelayan dan petani. Mereka tinggal di kawasan berbukit-bukit tanpa irigasi itu membutuhkan air hujan untuk menanam padi, jagung, tanaman sayuran dan tanaman tahunan. Biasanya Desember hingga April hujan masih datang, bulan baik untuk bertani. Sementara Minggu kedua Februari mestinya angin barat mulai berkurang dan melaut lebih aman bagi nelayan.
Tapi apa pun musimnya, warga Gincu bisa menebak  dari jauh, hanya dengan memandang  puncak Torong Besi, atau Tanjung Besi. Gugusan perbukitan yang menjorok ke laut itu berdiri megah berlatar langit biru.
“Kami bisa tebak hujan akan segera tiba jika di sekeliling puncak Torong Besi diselimuti kabut dan awan pekat,” ujar Gaspar Sales, tua teno atau tetua adat Gincu. “Biasanya pada bulan Oktober –November,” lanjutnya.
Sebenarnya tak hanya masyarakat Gincu yang menggantungkan pembacaan musim pada  puncak-puncak torong. Penduduk kampung di sepanjang pesisir utara kecamatan Lambaleda Manggarai Timur juga.
“Ada tiga torong yang biasanya digunakan sebagai penanda, Torong Besi, Torong Tumpang dan Torong Luwuk,” ujarnya.
Musim hujan dan kemarau tak bisa diragukan lagi jika ketiga torong itu memberikan pertanda. “Tapi Torong Besi induknya,” tambah Yacobus Daud, tetangga Gaspar.
Tanda-tanda yang bisa dilihat biasanya kabut tebal dan gelegar halilintar. Seolah pengumuman agar nelayan dan petani bersiap-siap. Tak lama, jika dua tanjung lainnya menyambut dengan awan atau suara gelegar halilintar, pertanda itu menjadi pasti. Warga mulai membagi kerja. Jika tidak, persediaan pangan dan penghasilan keluarga tak akan cukup untuk setahun.
Itu sebabnya Torong Besi dikenal sebagai “sang petujuk”, memberi petunjuk datangnya musim.
Torong Besi juga tempat keramat. Menurut Gaspar, warga kerap melakukan upacara adat di sana. “Salah satunya jika musim kemarau panjang, hujan tak juga datang, kami datang ke puncak torong dan berdoa meminta hujan pada Tuhan. Juga saat akan panen, kami berdoa di sana.”
Torong Besi banyak menyimpan kejadian aneh. “Tak semua orang bisa diterima. Hanya mereka yang diberkati bisa melihat kerang raksasa di sana, juga sebuah tiang rumah bercabang dua, yang tak seorang pun bisa mencabutnya dari tanah,” ujarnya.
Cerita luar biasa lainnya tentang Wani atau lebah,  atau sebutan untuk pohon madu. Bagian badan bukit hingga kaki torong banyak pohon madu,  makin mendekati puncak makin besar pohon madunya.
“Butuh  tangan lima orang dewasa bahkan lebih untuk  bisa memeluk batang pohon yang usianya ratusan tahun itu,” tambah Gaspar. Pohon-pohon itu tingginya bisa di atas 50 meter. Di  cabang dan dahan-dahan pohon inilah ratusan rumah lebah beragam ukuran bergantungan seperti papan yang pangkalnya menempel di langit-langit.
Empat pohon paling besar  ada di bawah puncak Torong Besi. “Satu pohon bisa punya 200 hingga 500 kepala rumah lebah. Rumah lebah yang paling besar bisa menghasilkan madu hingga 50 botol bir. Pada 2004, kami mendapatkan 700 botol madu”, ujarnya. Madu-madu itu dijual seharga Rp 25 ribu per botol. Tapi di luar pulau seperti Bali, harganya bisa mencapai Rp 45 ribu. Madu dipanen dua kali dalam setahun, satu di musim kemarau, dan satu kali di musim hujan. Biasanya madu musim kemarau jumlahnya lebih banyak dibanding penghujan. Rasanya juga lebih manis.
Torong Besi penghasil madu kedua terbanyak di Kecamatan Lambaleda, menyusul kampung tetangganya, Sirise. Tapi itu dulu, sebelum puncak-puncak torong itu rusak digali menjadi kawasan tambang Mangan.
“Sejak 2007, kami tak bisa membaca pertanda, tak ada lagi madu”, ujar Gaspar, lirih.
Torong Besi  dihancurkan, puncaknya kini rata. Torong Luwuk lebih parah,  dari jauh bagian yang dulunya hijau, kini terlihat seperti luka putih-kehitaman, menganga. Tak heran, Torong Luwuk dan perbukitan sekitarnya sudah hampir dua dekade digali PT Arumbai Mangan Bekti  (AMB), perusahaan yang hingga saat ini tak diketahui warga siapa sebenarnya mereka.
“Kami dengar mereka dari Jakarta”, ujar Wati Brodus, perempuan Sirise, kampungnya ada di kaki Torong  Luwuk, hanya beberapa ratus meter dari dermaga pengangkutan mangan milik perusahaan. Tapi jika ditanya lebih lanjut, siapa sebenarnya pemilik perusahaan ini, dari mana uang mereka berasal, kemana sebenarnya Mangan ini dijual. Kebanyakan warga Sirise menyatakan tidak tahu, atau menjawabnya dengan kata pembuka “Katanya”.
Sejak 1980-an, perusahaan tambang datang dan pergi dari kawasan itu, seolah sebuah kawasan tak bertuan. Semula ada PT Antam pada 1980an, PT Istindo Mitra Utama pada 1993 dan pada 1997 bergabung PT AMB  mengeruk  mangan di sana. Semua izin dikeluarkan oleh pemerintah.
Tapi pemerintah tak hadir di tengah warga saat PT AMB  melahirkan bencana bagi warga Sirise dan kampung-kampung di sekitar Torong Luwuk. Longsor dari guguran tanah yang diledakkan dan digali di atas bukit menimbun lahan-lahan pertanian di bawahnya. Kejadian ini terus berulang. Air makin sulit dicari, lahan pertanian menyempit, kesehatan warga terganggu.
Delapan tahun lalu, warga sudah mengirimkan laporan tentang gangguan kesehatan karena tambang mangan kepada Komnas Perempuan. Mereka melaporkan gangguan kesehatan, mulai batuk pilek, susah tidur, gangguan sesak napas ringan hingga berat, batuk berdarah, dada bagian kiri sakit, diare berlendir dan berdarah, juga tumor. Sayangnya tak ada tindak lanjut yang berarti.
“Tapi yang paling bikin kami sakit hati adalah dibuat bermusuhan satu sama lain,” ujar Wati.
Pada 2009, penduduk Sirise menghukum denda adat PT AMB karena masuk dan menggali lahan adat tanpa izin warga. Perusahaan harus membayar satu ekor babi, dua puluh botol moke dan rokok satu slop. Warga tak mau kawasan itu dihancurkan, seperti lahan-lahan lain milik tetangga kampungnya, Satarteu.
Perusahaan minta bantuan kampung Satarteu. Sebenarnya Sirise dan Satarteu berasal dari keturunan yang sama, yaitu warga tanah Welang, kawasan di atas perbukitan Sirise. Sayangnya, satu tetua adat di Satarteu berkhianat, dan memberikan kesaksian bahwa lahan milik orang Sirise adalah tanah adat Satarteu. Kini dua saudara itu berseteru.
Untunglah kerusakan Torong Besi belum separah Torong Luwuk. Warga Gincu dan sekitarnya berhasil menghentikan penggalian tambang PT Sumber Jaya Asia (SJA), setidaknya untuk sementara. Saat itu PT SJA sudah merambah kawasan hutan lindung. Perusakan lingkungan juga mulai terasa. Pohon-pohon madu yang tingginya lebih 50 meter itu kini tertimbun longsor, hingga puncaknya.
“Setelah menambang setahun, kami berhasil menghentikan PT SJA.  Seluruh wilayah pesisir di sini mengalami paceklik selama dua tahun sejak perusahaan beroperasi,” ujar  Gaspar. Tapi setelah dililit perkara hukum, perusahaan lain kini mengambil alih PT SJA. “Namanya Global Comodity Asia. Kami  tak tahu siapa pemilik PT SJA, katanya dari China, juga tak tahu siapa PT yang baru ini, kenapa mereka ada di sini, kami hanya lihat papannya besar dekat pelabuhan PT AMN” tambahnya.
Banyak ketidakjelasan dan ketidaktahuan menggantung di kampung-kampung  sepanjang pesisir Flores utara bagian timur ini. Perusahaan tambang datang dan pergi ke tempat itu,  bagai wilayah tak bertuan, yang tak mendapat perlindungan dari pemerintah. Ketidakpastian itu bertambah, sejak Torong Besi – sang pertunjuk hancur, dan tak lagi menjadi penanda musim.
Dimuat Majalah FORUM Keadilan No 42/ 18 – 24 februari 2013.
Foto : Henri-Ismail.tumblr.com

Puncak Torong Besi, kini rata. Foto Henri-Ismail.tumblr.com

Dulu, warga Gincu bisa menebak kapan datangnya hujan ataupun kemarau hanya dengan memandang  puncak Torong Besi. Namun kini gugusan perbukitan itu telah dihancurkan dan disulap menjadi kawasan tambang. Warga hanya menerima getah dari keserakahan perusahaan tambang dan pemerintah.

Torong itu dulunya penanda. Setidaknya bagi warga Gincu, sebuah perkampungan di pesisir Manggarai.  Pertanda  kapan sang langit bersedia membagi air, dan angin barat mulai surut. Dua pertanda yang dipakai petani untuk mulai menyiapkan lahan dan nelayan kembali melaut.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 73

Menu

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Publikasi

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday153
mod_vvisit_counterYesterday530
mod_vvisit_counterThis week1765
mod_vvisit_counterLast week3408
mod_vvisit_counterThis month9614
mod_vvisit_counterLast month12388
mod_vvisit_counterAll days521734

You are here: