Pohon, Perempuan dan Keadilan Iklim
Oleh Siti Maimunah, Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (CSF)
Menanam pohon itu baik dan bisa menanggulangi dampak perubahan iklim. Jika tak percaya tanyakan saja pada Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTP)i. Sebuah gerakan gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon yang dimulai sejak 2007.
Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, KOWANI, Dharma Wanita Persatuan, Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB), Bhayangkari, Dharma Pertiwi dan Tim Penggerak PKK - tujuh organisasi pelopor GPTP menyebut upaya itu sumbangan mereka bagi pelestarian lingkungan hidup untuk menanggulangi perubahan iklim global, sebab pohon bisa menyerap Karbon.
Sejak itu gerakan menanam pohon untuk menjawab masalah perubahan iklim mengemuka di Indonesia. Jargonnya pun beragam. Ada One Man One Three. Lantas Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia. Banyak Pohon Banyak rejeki, dan lainnya. Departemen Kehutanan bahkan mengklaim telah menanam lebih 2 Milyar Pohon dalam dua tahun terakhir, menyerap 15 juta ton lebih Karbonii. Menanam Pohon kemudian menjadi ritual akhir tahun para Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Gemanya bahkan melebihi penyebab perubahan iklim sendiri, pembakaran batubara, minyak dan gas bumi, deforestasi hutan dan degradasi lahan yang terus berlangsung dan makin meluas.
Karbon Netral
Kevin Smith (2006), peneliti Transnational Institute menyebut upaya mengkompensasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan menanam pohon itu sebagai Karbon Netral. Mirip yang dilakukan grup musik terkenal asal Inggris, Coldplay pada 2002, saat memproduksi album "A Rush of Blood to the Head". Mereka bermitra dengan perusahaan Carbon Neutral untuk "menetralkan" karbon yang dihasilkan dari proses produksi dan penyebaran album tersebut.
Coldplay membayar jasa yang ditawarkan Carbon Neutral menanam 10 ribu pohon Mangga di Karnataka India. Bahkan kelompok musik ini menyarankan penggemarnya sukarela mendonasikan sekitar Rp 225 ribu untuk satu pohon Mangga yang ditanam di sana. Sang penggemar akan mendapatkan sertifikat keren, bahkan peta dimana pohon yang mereka bayar itu ditanamiii.
Belakangan diketahui dari pemberitaan The Sunday Telegraph, 2006, ternyata proyek itu justru menghasilkan banyak masalah. Setidaknya itu disampaikan Anandi Sharan Miele dari Women for Sustainable Development (WSD), mitra Carbon Neutral di Karnataka yang mengakui dari 8000 anakan Mangga yang mati sekitar 40 persen. Hal itu dikarenakan desa-desa di sana mengalami kesulitan air, earga juga mengkomplain kompensasi yang diberikan tak sesuai yang dijanjikan.
Apa yang dirasakan Coldplay dengan menanam pohon Mangga itu? Mungkin mereka merasa lebih tenang, merasa menjadi pemusik yang lebih bertanggung jawab. Sama seperti perasaan kita saat melakukan perbuatan baik lainnya. Menanam pohon adalah perbuatan baik. Mungkin mirip dengan perasaan yang muncul saat orang-orang membeli mobil hibrid, AC ramah lingkungan, kayu bersertifikat ekolabel, emas bersertifikat hijau, juga minyak sawit bersertifikat RSPO. Mereka pasti merasa lebih baik dibanding membeli produk usang. Itu membuat kita merasa lebih bertanggung jawab. Seolah memberikan kita hak untuk terus menerus membeli, mengkonsumsi dan barang, tanpa batas.
Jejak Ekologi
Padahal untuk memproduksi barang itu dibutuhkan sumber daya alam, yang bisa saja dikeruk dari tempat yang jauh. Misalnya emas. PT Newmont Nusa Tenggara misalnya membongkar tanah untuk mendapatkan batuan mengandung emas, menebang hutan, hingga mengubah aliran sungai. Tak cukup itu, sejumlah bahan kimia dan limbah akan dibuang setelah emas dikeluarkan dari batuan. Untuk mendapat satu gram emas dibutuhkan sedikitnya 100 liter air, dibuang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing, belum lagi 5,8 kilogram emisi beracun, berupa 260 gram Timbal, juga 6,1 gram Merkuri dan 3 gram Sianidaiv. Inilah gambaran jejak ekologi kita yang mengggunakan emas.
Demikian halnya dengan Handphone (HP). Seperempat berat sebuah HP berasal dari logam, belum termasuk baterai dan pengecasnya. Barang-barang elektronik, dibuat dari berbagai komponen dan jenis logam. Bahan utamanya adalah aluminium, besi, tembaga, nikel dan seng. Tapi ada bahan lain dalam jumlah kecil, seperti galium, timah, cobalt, coltan, tantalum dan platinum. Meski kecil, bahan yang dikenal sebagai rare earth mineral, atau mineral langka bumi ini perannya vital. Cobalt bahan pengecas batere HP, Gallium dipakai untuk power amplifier, keypad dan lampu kamera HP. Jangan lupa timah untuk menyoder atau merekatkan antar komponen.
Tahun lalu, Menkominfov mengumumkan penggunaa HP di Indonesia mencapai 231 juta, pengguna HP nomer empat dunia. Jumlah pemakai HP secara global kini lebih 5 Milyar dan akan terus bertambahvi. Bayangkan, berapa logam yang harus digali untuk memenuhi kebutuhan itu, berapa gunung sudah dibongkar untuk diambil batuan mineralnya, berapa hutan dibabat, limbah yang dibuang ke lingkungan sekitar, dan lubang-lubang yang diitnggalkan begitu saja? Pertanyaan paling penting, dimana semua bahan itu didapat.
Tentu saja bukan dari Negara industri asal perusahaan elektronik macam Nokia, Samsung, Dell, Apple dan lainnya. Logam-logam itu berasal dari Negara miskin dan berkembang macam Congo dan Indonesia. Cobalt dan timah untuk industri elektronik sebagiannya dipasok dari Congo, dari kawasan yang dikontrol oleh kelompok-kelompok pemberontak bersejata dan perang sipil. Diperkirakan dua juta orang meninggal akibat kekerasan, penyakit dan kelaparan semasa perang sipil. Timah juga dipasok dari Bangka Belitung sejak 300 tahun lalu. Sedikitnya 1000 lubang tambang – yang disebut kolong ditinggalkan begitu saja di sana.
Negara industri yang memproduksi barang-barang elektronik tersebut tak hanya menjadikan negara miskin dan negara berkembang sebagai sumber bahan mentah, namun juga pasar raksasa yang menguntungkan, karena jumlah penduduknya yang besar. Kerap pabrik-pabriknya pun bertempat di negara yang sama karena gaji buruhnya yang murah, biaya lingkungannya lebih rendah, ujungnya biaya produksi bisa ditekan.
Bukankah cerita itu terdengar seperti cerita usang? Cerita tentang penjajahan bangsa-bangsa ratusan tahun lalu.
Itu memang cerita usang. Cerita penjajahan, penciptaan dan konsumsi barang yang tiada batas. Cuma berubah modanya. Jika penjajahan ratusan tahun lalu menggunakan pasukan tentara dan senjata. Kini cukup dengan para cerdik cendikia, teknologi, utang, pengetahuan, budaya, dan tentu saja dengan bantuan korupsi. Penjaga keamanannya cukup mengerahkan polisi atau tentara di negara tempat mereka mengeruk. Hasilnya tak jauh berbeda, hasil eksploitasi besar-besaran ini diangkut dan diperdagangkan diantara negara industri. Mereka makin kaya, jajahannya tetap menjadi negara miskin, atau paling banter berkembang.
Belakangan muncul gerakan masyarakat sipil yang menuntut pembayaran utang ekologis oleh negara industri. Utang yang diciptakan dari akumulasi pencurian sumber daya alam selama era kolonialisme, perdagangan tidak adil, kerusakan lingkungan dan pembuangan limbah oleh negara-negara industri. Tuntutan ini tak hanya bertujuan mensejajarkan posisi dan mengkoreksi ketidakadilan yang terjadi. Namun juga mengingatkan bahwa bumi yang kita miliki punya keterbatasan.
Pembabatan hutan dan pembongkaran bahan tambang sejak 5 dekade lalu telah menghasilkan kerusakan lingkungan yang luar biasa, termasuk pencemaran atmosfir bumi. Setidaknya dari pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan karbon yang tersimpan dalam tanah (inert) dilepas masuk dalam daur karbon aktif di atas permukaan bumi. Emisi karbon itu berakumulasi dengan emisi GRK dari degradasi lahan, deforestasi hutan dan lainnya menciptakan efek rumah kaca dan memicu pemanasan global dan menyebabkan perubahan iklim.
Reproduksi Sosial
Namun bicara konsumsi dan keterbatasan bumi, sebenarnya perempuan yang paling mudah mengenali keterbatasan bumi. Sebab dalam keseharian, mereka yang paling berhubungan dengan sumber-sumber kehidupan dari alam. Perempuan yang mengumpulkan air dan mengaturnya untuk kebutuhan keluarga, mulai untuk kebutuhan memasak, mencuci hingga memandikan anak. Mereka juga yang memasak makanan yang dipanen dari kebun. Semuanya berhubungan dengan alam. Perempuan yang akan pertama merasakan air yang tercemar, ataupun lahannya rusak karena dibongkar.
Uniknya melalui peran domestik dalam keluarga, perempuan memiliki peran dan kesempatan luas sebagai penjaga identitas dan reproduksi sosial. Reproduksi sosial adalah fungsi seksualitas tubuh perempuan yang berhubungan dengan peran sosialvii. Pada sebuah keluarga miasalnya, bisanya perempuan yang lebih banyak memperkenalkan nilai-nilai kebaikan pada anak-anaknya, yang akan diingat si anak sepanjang hidupnya. Sebab, mereka lebih sering bersama anaknya di rumah.
Dalam situasi krisis lingkungan seperti sekarang, rasanya tak cukup memperkenalkan nilai-nilai baik pada keluarga sebatas nilai normatif, macam jangan buang sampah sembarangan, mari menanam pohon atau jaga kebersihan. Anak-anak dan anggota keluarga lainnya harus mendapatkan pengetahuan dasar tentang jejak ekologi mereka. Intinya, mengetahui sebenarnya dari mana barang-barang yang mereka gunakan berasal, termasuk logam-logam yang ada di televisi, HP, radio dan apa ongkos sosial dan lingkungannya, tentu dengan bahasa yang lebih sederhana, mudah ditangkap.
Pengetahuan itu bekal penting untuk kelak mereka menentukan pilihan di masa remaja. Sebab pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping biasanya, remaja mudah terbujuk rayuan iklan, meniru teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Dengan bantuan Kelompok usia remaja bisa menjadi kelompok sangat konsumtif.
Alam adalah Tubuh Manusia
Perempuan Molo di pulau Timor mengenalkan lingkungan pada anak-anaknya lewat filosofi mereka tentang alam adalah tubuh. ”Kami orang Molo, semua makan dan minuman kamu disediakan oleh perempuan, sama dengan tanah yang menyediakan kami makan dan minum. Kalau alam dirusakan dengan ambil batu sama saja dengan memperkosa tanah, memperkosa perempuan”, ujar mama Ety Anone, pada orang-orang yang datang ingin menambang batu mereka.
Sebab buat orang Molo batu bukanlah batu. Orang Molo Percaya Alam bagaikan tubuh manusia. “Kami tidak jadi manusia lagi, kalau kami tidak tinggal di tanah ini, sedangkan tanah kami banyak longsor dan rusak, batu diambil dan dihancurkan, lalu air kotor, hilang, hutan juga di tebang, diambil. Akibatnya tanah lepas pergi, air jadi kurang. Padahal tanah, hutan, batu dan air memiliki fungsi sama dengan tubuh manusia.
Alam bagai tubuh manusia. Batu, hutan, air, tanah sama dengan tubuh manusia. Batu dilambangkan sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Filosofi ini yang mendorong mereka untuk menghalangi perusakan lahan dan air. Salah satunya dilakukan dengan pengusiran perusahaan tambang yang membongkar gunung batu untuk diambil marmernya. Mereka berhasil menyelamatkan empat gunung batu, tulang-tulang penyusun dan penguat tubuh alam.
Itu sebabnya, tak seperti GPTP, Perempuan Molo di pulau Timor justru memaknai dampak perubahan ikim, sebagai lampu merah. Mereka berupaya sedemikian rupa untuk mengurangi konsumsi dengan mendekatkan dirinya kepada alam dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka. Perempuan-perempuan Molo adalah penggerak utama di sana.
Sejak itu, orang Molo membentuk persekutuan bersama dua suku lainnya yang masih bersaudara, Amanuban dan Amanatun. Persekutuan adat itu bernama tiga batu tungku. Mereka memulihkan kembali tanah-tanah dan sempadan sungai yang rusak karena longsor dengan menanam pohon. Bukan untuk menangkap karbonnya, seperti yang dilakukan GPTP. Sebab Orang Molo tak memisah-misahkan fungsi-fungsi yang dimiliki pohon, karena itu bagian fungsi tubuh. Fungsi-fungsi yang kini diperjualbelikan oleh pemerintah dan korporasi lewat proyek-proyek REDD, penurunan emisi dari perusakan dan degradasi hutan.
Tapi kini kondisi makin berat sejak dampak perubahan iklim makin terasa. Orang Molo menghadapi musim ekstrim yang kedatangannya tak bisa diramalkan lagi. Praktis dalam tiga tahun terakhir mereka tak bisa menanam dengan normal, gagal tanam dan gagal panen. Orang Molo juga membudidayakan tanaman Pangan yang semula harus mereka ambil di hutan, yang jumlahnya makin jarang, agar bisa dikonsumsi saat musim paceklik.
Perubahan Iklim dan cuaca merupakan tanda-tanda alam. Tetapi bukan berarti sifatnya alami. Perubahan iklim menggambarkan perombakan pola. Keteraturan hilang. Musim tidak lagi berlaku, tidak bisa lagi diramalkan. Petani, nelayan dan Kaum Miskin Kota mengalami masa-masa paling sulit. Tapi dalam situasi ini perempuan tetap yang paling sengsara.
Perubahan iklim berdampak lebih parah pada perempuan karena berbagai peran yang kerap kali distereotipkan untuk perempuan dalam keluarga. Sebab perempuan memikul tanggung jawab utama untuk mengumpulkan air dan bahan bakar serta menyediakan pangan untuk keluarga merekaviii. Menurut Serikat Petani Indonesia, sekitar 70 – 80 persen pekerja pada sektor pertanian adalah perempuanix. Kelompok inilah yang paling terkena dampak saat pada 2006, total areal pertanian di Indonesia yang terkena dampak banjir mencapai 66,400 hektar. Antara Oktober - Desember 2007 saja, banjir telah menyebabkan 6,676 hektar lahan pertanian gagal panen.
Itulah sebabnya membicarakan perubahan iklim mensyaratkan empat prinsip, yang dikenal sebagai prinsip keadilan iklim. Prinisp itu termasuk keselamatan manusia, hak atas lahan, jejak ekologi, serta keadilan produksi dan konsumsi. Tak kan pernah cukup menjawab masalah perubahan iklim dengan menanam pohon. Apalagi mempromosikan menanam pohon atau menjaga karbon hutan sebagai cara utama menghadapi dampak perubahan iklim. Celakanya, pemerintah bersama korporasi justru akan memperdagangkan fungsi-fungsi alam, termasuk fungsi yang dimiliki pohon, hutan dan laut sebagai upaya mitigasi perubahan iklim.
Upaya mitigasi atau pengurangan emisi, maupun upaya penyesuaian dampak perubahan iklim (adaptasi), tak mampu menjawab pangkal masalah perubahan iklim, yaitu gagalnya model pembangunan global. Selama Indonesia tak mengubah dan berpaling dari ketaatan model pembangunan saat ini, maka solusi menyeluruh perubahan iklim akan semakin jauh tak tersentuh. Dan Perempuan akan menjadi warga negara yang paling dirugikan.
Oleh Siti Maimunah, Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (CSF)
Menanam pohon itu baik dan bisa menanggulangi dampak perubahan iklim. Jika tak percaya tanyakan saja pada Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTP)i. Sebuah gerakan gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon yang dimulai sejak 2007.
Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, KOWANI, Dharma Wanita Persatuan, Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB), Bhayangkari, Dharma Pertiwi dan Tim Penggerak PKK - tujuh organisasi pelopor GPTP menyebut upaya itu sumbangan mereka bagi pelestarian lingkungan hidup untuk menanggulangi perubahan iklim global, sebab pohon bisa menyerap Karbon.
Read more...