Slide Show
 

CSF TERKINI

xbannerlaunching

Tanzania Tuan Rumah Konferensi Adaptasi Perubahan Iklim

E-mail Print PDF
TEMPO Interaktif, Jakarta - Konferensi Internasional ke-4 tentang Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas bakal berlangsung di Dar es Salaam, Tanzania. Acara yang diadakan 24-26 Februari itu dihadiri ratusan pakar perubahan iklim dan lembaga swadaya masyarakat internasional. Mereka akan mendiskusikan upaya masyarakat mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan apa saja kebijakan pemerintah yang dibutuhkan.
Pertemuan akbar ini diselenggarakan International Institute for Enviroment and Development (IIED), Protection Management Services (EPMS, Tanzania), Bangladesh Centre for Advanced Studies (BCAS), dan Ring Alliance. Sesi khusus berfokus pada bagaimana masyarakat di daerah perkotaan atau pedesaan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim seperti gelombang panas, banjir dan kekeringan.
“Perubahan iklim merupakan masalah global, tetapi dampaknya selalu lokal dan oleh karena itu perlu solusi," kata Dr Hannah Reid, Peneliti Senior IIED dalam siaran persnya, Rabu (3/2). Menurutnya, masyarakat di seluruh dunia telah merasakan dampak perubahan iklim dan mengambil tindakan untuk mengurangi kerentanan. Pertemuan ini menjadi tempat untuk tukar menukar kisah sukses agar bisa diterapkan di wilayah lain.
Konferensi bertujuan mengidentifikasi strategi jitu berbagi informasi antara masyarakat yang rentan. Selain itu mempromosikan adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat ke dalam kebijakan program pembangunan di level nasional dan internasional. “Komunitas merupakan wahana yang baik untuk mendorong proyek-proyek adaptasi karena mereka paling tahu apa tantangan yang dihadapi,” kata Reid. Dia mendorong semua pemangku kepentingan memanfaatkan pendekatan bottom-up.
Harapan yang sama diungkapkan Euster Kibona dari EPMS. Tukar menukar pengalaman, katanya, sangat bermanfaat untuk merumuskan strategi adaptasi masyarakat yang terkena risiko terbesar dari perubahan iklim. Menurutnya, konferensi akan membuka peluang pendanaan bagi proyek-proyek adaptasi di tingkat akar rumput. Peserta konferensi akan mengunjungi proyek-proyek adaptasi perubahan iklim di Dar es Salaam.
Sejumlah lembaga internasional mendanai konferensi ini. Antara lain AfricaAdapt, the British Council, CARE, Christian Aid, EPMS, FAO (Communication for Sustainable Development Initiative), GTZ, IDRC, IFAD, IIED, OXFAM, Practical Action, The Rockefeller Foundation, The Development Fund (Norway), UNDP, World Food Programme, dan WWF.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Konferensi Internasional ke-4 tentang Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas bakal berlangsung di Dar es Salaam, Tanzania. Acara yang diadakan 24-26 Februari itu dihadiri ratusan pakar perubahan iklim dan lembaga swadaya masyarakat internasional. Mereka akan mendiskusikan upaya masyarakat mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan apa saja kebijakan pemerintah yang dibutuhkan.

Pertemuan akbar ini diselenggarakan International Institute for Enviroment and Development (IIED), Protection Management Services (EPMS, Tanzania), Bangladesh Centre for Advanced Studies (BCAS), dan Ring Alliance. Sesi khusus berfokus pada bagaimana masyarakat di daerah perkotaan atau pedesaan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim seperti gelombang panas, banjir dan kekeringan. 

“Perubahan iklim merupakan masalah global, tetapi dampaknya selalu lokal dan oleh karena itu perlu solusi," kata Dr Hannah Reid, Peneliti Senior IIED dalam siaran persnya, Rabu (3/2). Menurutnya, masyarakat di seluruh dunia telah merasakan dampak perubahan iklim dan mengambil tindakan untuk mengurangi kerentanan. Pertemuan ini menjadi tempat untuk tukar menukar kisah sukses agar bisa diterapkan di wilayah lain. 

Konferensi bertujuan mengidentifikasi strategi jitu berbagi informasi antara masyarakat yang rentan. Selain itu mempromosikan adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat ke dalam kebijakan program pembangunan di level nasional dan internasional. “Komunitas merupakan wahana yang baik untuk mendorong proyek-proyek adaptasi karena mereka paling tahu apa tantangan yang dihadapi,” kata Reid. Dia mendorong semua pemangku kepentingan memanfaatkan pendekatan bottom-up. 

Harapan yang sama diungkapkan Euster Kibona dari EPMS. Tukar menukar pengalaman, katanya, sangat bermanfaat untuk merumuskan strategi adaptasi masyarakat yang terkena risiko terbesar dari perubahan iklim. Menurutnya, konferensi akan membuka peluang pendanaan bagi proyek-proyek adaptasi di tingkat akar rumput. Peserta konferensi akan mengunjungi proyek-proyek adaptasi perubahan iklim di Dar es Salaam. 

Sejumlah lembaga internasional mendanai konferensi ini. Antara lain AfricaAdapt, the British Council, CARE, Christian Aid, EPMS, FAO (Communication for Sustainable Development Initiative), GTZ, IDRC, IFAD, IIED, OXFAM, Practical Action, The Rockefeller Foundation, The Development Fund (Norway), UNDP, World Food Programme, dan WWF.

 

Login

Pilihan Pembaca

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday74
mod_vvisit_counterYesterday471
mod_vvisit_counterThis week545
mod_vvisit_counterLast week3720
mod_vvisit_counterThis month12771
mod_vvisit_counterLast month10789
mod_vvisit_counterAll days343095

You are here: