Slide Show
 

CSF TERKINI

xbannerlaunching

Indonesia Dikepung Bencana, Akibat Salah Urus Lingkungan

E-mail Print PDF



Oleh : Sugandi

KBRN, Jakarta,
Senin , 16 Januari 2012 - 
Membuka awal tahun 2012, beberapa wilayah di Indonesia dikepung banjir hebat. Terakhir banjir melumpuhkan aktivitas perekonomian lintas provinsi Jawa- Sumatera akibat gelombang tinggi,  juga akibat banjir yang meredam tol Tangerang-Merak, tepatnya di kilometer 56-58.



Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Berry Nahdian Furqon, dalam perbicangan bersama Pro 3 RRI mengatakan banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesia akibat kurangnya  perhatian pemerintah dalam pengelolaan lingkungan, buruknya \ pengelolaan tata ruang. Dalam UU Pengelolaan Lingkungan, diamanahkan 30 % untuk lahan hijau, namun hal tersebut tidak terealisasi bahkan pemerintah terkesan melanggar konstitusi.



“Daya dukung kita semakin menurun dan celakanya kemampuan kita untuk melakukan antisipasi, dan mitigasi kita sangat lemah sekali. Dan ini mengakibatkan banjir besar serta jatuhnya korban jiwa. Kita salah urus dalam pengelolaan tata ruang, salah dalam pengelolaan tata ruang terbuka hijau yang semakin sempit,”kata Berry Nahdian Furqon, Senin (16/1).


Selama ini, lanjut Berry N Furqon, selama ini pemerintah masih berkutat kepada hal-hal teknis seperti terkendala alat dan sumber daya manusia.



“BNPB selama ini kerepotan karena kekurungan perahu. Padaha ini sesuatu yang sudah diprediksi. Masa kita terus dihadapkan soal koordinasi, pelatan yang tidak ada,” ungkapnya.


Selain itu,  menurut aktivis lingkungan itu menilai selain kurangnya pemerintah dalam mengelola lingkungan, juga nuasa pencitraan politik lebih kuat ketimbang upaya konkret pemerintah untuk mencegah kerusakan lingkungan. Dan kondisi tersebut semakin diperparah dengan langkah reaktif pemerintah bak “pemadam kebakaran” dalam menangani musibah seperti banjir. Misalnya, untuk mengantisipasi banjir, pemerintah melakukan pengerukan sungai secara rutin, namun diwkatu bersamaan pemerintah tidak melakukan penghijauan diwilayah hulu sungai.



"Yang dilakukan pemerintah selama ini adalah  politik pencitraan dan rekatif seperti  pemadam  kebakaran. Pemerintah melihatnya parsial. Misalnya sungai diuruk  tetapi  hulu tidak ada penghijauan, selain itu yang salah adalah tidak terserapnya air hujan. Selama ini air hujan dialirkan langsung ke  laut ,” tambah Berry Nahdian Furqon.  (Sgd/AKS)

http://www.rri.co.id/index.php/detailberita/detail/7554

 

Login

Pilihan Pembaca

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday317
mod_vvisit_counterYesterday502
mod_vvisit_counterThis week2586
mod_vvisit_counterLast week3200
mod_vvisit_counterThis month8391
mod_vvisit_counterLast month10789
mod_vvisit_counterAll days338715

You are here: