Slide Show
 

COP 18: Selamatkan Rakyat, Turunkan Emisi, Hentikan Membakar Bumi

Pada 26 November – 7 Desember 2012 akan berlangsung KTT Perubahan Iklim di Doha Qatar. Dunia menjadi saksi meningkatnya krisis iklim. Mulai badai Sandy  di Amerika Serikat hingga banjir dan berbagai bencana lingkungan lainnya  yang makin rutin dan meluas di negara-negara Asia. Namun, para pemimpin Negara industri justru mempermainkan nasib penduduk bumi lewat ketidakpastian penurunan emisi, dan dukungan adaptasi bagi negara-negara berkembang dan miskin. Tak hanya menjadi batu sandungan dalam tiap KTT Iklim, yang membuat Kyoto Protokol periode pertama berakhir 2012 tanpa kesepakatan mandat penurunan emisi Negara Industri. Amerika Serikat berusaha membawa substansi negosiasi iklim ke dalam negosiasi informal di luar skema PBB - UNFCCC, melalui Major Economies Forum on Energy and Climate. Indonesia adalah salah satu anggotanya. Bagaimana nasib Keselamatan Penduduk bumi ke depan?



Pemanasan Global Ancam Pasokan Air"""
MP3EI, Ekonomi Hijau
ala Indonesia?
Cara Petani Beradaptasi dengan Iklim

Walhi Khawatir Pertemuan COP 17 Berakhir Buruk

E-mail Print PDF



Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengkhawatirkan pertemuan COP 17 yang digelar di Durban, Afrika Selatan, yang akan berakhir buruk.

 



Negara-negara maju dan negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi mengusulkan untuk menunda kesepakatan penurunan emisi GRK sampai dengan tahun 2020.


Sementara inisiatif eropa menginginkan sebuah kesepakatan yang komprehensif pada tahun 2015 dan di-implementasikan pada tahun 2020.



"Sikap Kanada yang menyatakan akan keluar dari Protokol Kyoto yang secara resmi akan diumumkan bulan depan, semakin menambah runyam putaran perundingan," kata Kepala Departemen Hubungan Internasional dan Keadilan Iklim Walhi, Muhammad Teguh Surya dalam rilis yang diterima Tribunnews, Rabu (30/11/2011).



Teguh mengingatkan, setidaknya ada 3 kekahwatiran utama terkait hasil dari pertemuan COP 17 nantinya, pertama tentang adanya mekanisme pasar yang baru untuk mengakomodir kepentingan industri negara maju.



Kedua, tidak akan ada kesepakatan yang mengikat dan ketiga rendahnya komitmen untuk menyelamatkan iklim bumi.



"Di situasi genting begini seharusnya Indonesia sebagai negara yang digadang-gadangkan sebagai pemimpin penyelamatan iklim harus mengambil sikap yang jelas dan tegas," katanya.



Pengkampanye Hutan Walhi, Dedi Ratih menegaskan, Indonesia sebagai negara kepulauan besar dan memiliki hutan tropis cukup luas mempunyai posisi kuat untuk memaksa negara-negara industri mengurangi emisinya.



"Namun hal tersebut belum terlihat sampai dengan hari kedua perundingan” jelasnya.



Walhi juga menemukan delegasi Indonesia masih sibuk mengurusi berkas atau dokumen perundingan yang disinyalir mengalami keterlambatan.



Teguh Surya mengatakan, selama ini putaran perundingan hanya dijadikan ajang mencari keuntungan bagi Amerika, Jepang, Kanada dan negara maju lainnya untuk terus mengekspansi industri kotor mereka dan perputaran barang dan jasa yang mereka produksi.



"Tak kalah pentingnya situasi itu juga menguntungkan elite-elite selatan yang korup. Tentu saja hal tersebut harus di lawan karena bumi bukan komoditi, tetapi ruang hidup bagi semua makhluk,” ujarnya.



Pertemuan COP 17, kata Tehuh, harus bisa menghasilkan resolusi iklim yang adil dan proporsional agar bumi bisa diselamatkan.



"Protokol Kyoto harus diselamatkan, penurunan emisi oleh negara maju harus dilakukan secara domestik dan radikal, sumber pendanaan tidak boleh bersumber dari utang dan pasar karbon serta tidak dibenarkan adanya transfer teknologi kotor (biofuel, nuklir, batu bara dan yang sejenisnya) ke negara berkembang dengan kedok pembangunan bersih," tukas Teguh.

Sumber; http://www.tribunnews.com

 

Menu

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Publikasi

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday432
mod_vvisit_counterYesterday559
mod_vvisit_counterThis week991
mod_vvisit_counterLast week3431
mod_vvisit_counterThis month991
mod_vvisit_counterLast month15352
mod_vvisit_counterAll days752222

CSF TERKINI

xbannerlaunching


You are here: