Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, masyarakat pulau kecil yang terisolasi dengan pulau besar akan berbahaya jika hanya mengandalkan satu sumber ekonomi. Sebab, ketika satu sumber itu gagal, tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan, sementara daerah mereka terisolasi.
Samuel Oktora | Khaerul Anwar | Marcus Suprihadi
Selasa, 18 Oktober 2011, MATARAM, KOMPAS.com — Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, masyarakat pulau kecil yang terisolasi dengan pulau besar akan berbahaya jika hanya mengandalkan satu sumber ekonomi. Sebab, ketika satu sumber itu gagal, tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan, sementara daerah mereka terisolasi.
Oleh karena itu, pemerintah harus mendorong mereka supaya mempunyai lebih dari satu sumber ekonomi. "Misalnya dalam satu wilayah semua masyarakatnya hanya melakukan budidaya rumput laut. Jika produksi tinggi, harga juga bisa jatuh. Begitu pula ketika cuaca buruk, masyarakat yang hanya mengandalkan mata pencarian sebagai nelayan mereka tak bisa melaut," kata Program Director Locally Managed Marine Area (LMMA) Indonesia Cliff Marlessy, Selasa (18/10/2011) di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Cliff menyampaikan hal itu saat berbicara sebagai narasumber pada sesi I Diskusi Regional Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan tema "Adaptasi terhadap Perubahan Iklim untuk Pulau-Pulau Kecil di Kawasan Timur Indonesia.
Tampil pula narasumber yang lain, Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad, dan Pejabat Fungsional Perencanaan Madya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Hamzah M Amin.
Pada sesi II tampil selaku nara sumber Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Wahyuningsih Darajati, Sekretaris Kelompok Kerja Adaptasi Dewan Nasional Perubahan Iklim, Ari Muhammad, dan Ketua Forum Kahedupa Toudani (Forkani) Labeloro.
Cliff mencontohkan, masyarakat Pulau Tanimbar Kei, di Kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, dapat hidup mandiri secara ekonomi, dan mereka juga mempunyai ketahanan pangan yang baik, karena mereka mempunyai tujuh sumber ekonomi, yakni ikan, kopra, tripang, sirip hiu, sejenis kerang-kerangan, yakni lola dan abalone, serta rumput laut.
"Dari rumput laut saja penghasilan warga pulau ini Rp 6 juta per bulan per keluarga," kata Cliff.
Wakil Menteri Perindustrian/Steering Committee Diskusi Regional FKTI Alex Retraubun menyatakan, status kemiskinan relatif tinggi di pulau-pulau kecil. Menyangkut dampak perubahan iklim ini penting dibahas, sebab 35 persen penduduk berada di pulau-pulau kecil, dan terbesar mereka berada di Indonesia timur. Dari 7 provinsi kepulauan saja, 5 provinsi di antaranya ada di KTI .
Keadaan mereka tak terurus, kesenjangan pembangunan juga luar biasa, sehingga di kawasan Indonesia timur mesti didorong industri untuk tumbuh. "Sebab keberadaan industri merupakan salah satu indikator kemajuan pembangu nan di suatu daerah," kata Alex.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/10/18/18541174/Berbahahaya.Bergantung.pada.Satu.Sumber.Ekonomi





















