Hervin Saputra / Arwani
Air rob tinggi kian sering melanda tambak warga pesisir Brebes. Sumber penghidupan terancam.
VHRmedia, Jakarta – Kenaikan air rob Pantai Utara Jawa menenggelamkan ratusan hektare tambak warga Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah. Bencana ekologis ini menghancurkan pendapatan masyarakat.
Mayoritas penduduk Pandansari hidup sebagai nelayan, petambak, dan petani. Sejak air rob naik selama 10 tahun terakhir, lahan tambak penduduk tenggelam seluas 800 hektare dari semula 1.300 hektare.
Sebelum tahun 1997, rob besar yang membanjiri permukiman hanya datang sekali setahun. Kini rob besar melanda 5 hingga 6 kali per tahun. "Orang nyebutnya rob maling. Datang tiba-tiba, hilang juga tiba-tiba," kata Rusjan, mantan Kepala Desa Pandansari, Rabu (30/3).
Akibatnya, anak-anak muda Pandansari yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi turun 50 persen. Anak muda tak bersemangat melanjutkan sekolah karena pendapatan orang tua menurun. "Mereka kehilangan semangat, karena kesejahteraan berkurang," kata Wahidin, pemuda Pandansari.
Wahidin adalah sarjana S2 pertama dan satu-satunya di Pandansari. Wahyudin menyelesaikan sarjana strata 1 di Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta dan mengambil S2 ilmu kajian budaya di Universitas Sanata Dharma. "Saya selesai di Sanata Dharma 2010," katanya.
Menurut Wahidin, saat ini rata-rata anak muda Pandansari hanya lulus SMA. Anak muda yang tidak sekolah kebanyakan merantau ke Jakarta untuk bekerja di warung tegal atau menjadi buruh migran. "Tapi paling nggak, masih ada beberapa orang melanjutkan ke SMA."
Wahidin juga mengeluhkan ketidakpedulian pemerintah terhadap Pandansari. Dukuh Pandansari tidak pernah diurus. Sebaliknya Desa Kaliwlingi yang menaungi Pandansari mendapat perhatian. "Aku nggak tega lihat orang sakit atau melahirkan. Mau melahirkan, tapi jalannya kayak gitu, gelap," kata Wahidim mengomentari buruknya jalan Pandansari sepanjang 7 kilometer. (E4)