Slide Show
 

COP 18: Selamatkan Rakyat, Turunkan Emisi, Hentikan Membakar Bumi

Pada 26 November – 7 Desember 2012 akan berlangsung KTT Perubahan Iklim di Doha Qatar. Dunia menjadi saksi meningkatnya krisis iklim. Mulai badai Sandy  di Amerika Serikat hingga banjir dan berbagai bencana lingkungan lainnya  yang makin rutin dan meluas di negara-negara Asia. Namun, para pemimpin Negara industri justru mempermainkan nasib penduduk bumi lewat ketidakpastian penurunan emisi, dan dukungan adaptasi bagi negara-negara berkembang dan miskin. Tak hanya menjadi batu sandungan dalam tiap KTT Iklim, yang membuat Kyoto Protokol periode pertama berakhir 2012 tanpa kesepakatan mandat penurunan emisi Negara Industri. Amerika Serikat berusaha membawa substansi negosiasi iklim ke dalam negosiasi informal di luar skema PBB - UNFCCC, melalui Major Economies Forum on Energy and Climate. Indonesia adalah salah satu anggotanya. Bagaimana nasib Keselamatan Penduduk bumi ke depan?



Pemanasan Global Ancam Pasokan Air"""
MP3EI, Ekonomi Hijau
ala Indonesia?
Cara Petani Beradaptasi dengan Iklim

Hutan Wanagama, Perintis Keberhasilan Pembelukaran

E-mail Print PDF
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Penghijauan dengan Konsep Pembelukaran di Hutan Wanagama, Gunung Kidul, DIY telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan bagi daerah tandus lainnya. Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada sebagai pengelola Hutan Wanagama, sedang menata ulang kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik untuk wisata.
Penataan ulang Hutan Wanagama, antara lain dilakukan dengan memindahkan pintu masuk sehingga lebih mudah diakses masyarakat. Pintu masuk baru ini diharapkan juga bisa kembali menghidupkan satu-satunya Museum Kayu di Indonesia yang terletak di Hutan Wanagama dan selama ini cenderung telantar.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM M. Naim mengungkapkan Hutan Wanagama berkontribusi besar untuk p endidikan dan penelitian. Selain fungsi akademis, Hutan Wanagama pun dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Beberapa kemenarikan H utan Wanagama adalah kehadiran air terjun, lebih dari lima mata air yang tidak kering sepanjang tahun, serta kerimbunan lebih dari 100 jenis pohon.
Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang tandus dan kering. Kehidupan di lokasi ini dimulai ketika tim dari Fakultas Kehutanan UGM melakukan penghijauan dengan teori pembelukaran. Mereka me nanam sebanyak mungkin jenis tanaman pionir yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.
Tanam pionir yang didominasi jenis legum memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.
"Keberhasilan penghijauan di Hutan Wanagama Gunung Kidul mendorong UGM untuk mengembangkan penghijauan seluas 20.000 hektar di Hutan Wanagama II Jambi yang bertipe tropis basah. Hutan Wanagama III bertipe hutan monsoon juga dibangun di Ngawi. Hutan Wanagama menjadi spirit untuk kegiatan pembangunan kehutan an di wilayah lain. Dari Wanagama, kita membangun Indonesia," ujar Naim.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Penghijauan dengan Konsep Pembelukaran di Hutan Wanagama, Gunung Kidul, DIY telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan bagi daerah tandus lainnya. Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada sebagai pengelola Hutan Wanagama, sedang menata ulang kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik untuk wisata.

Penataan ulang Hutan Wanagama, antara lain dilakukan dengan memindahkan pintu masuk sehingga lebih mudah diakses masyarakat. Pintu masuk baru ini diharapkan juga bisa kembali menghidupkan satu-satunya Museum Kayu di Indonesia yang terletak di Hutan Wanagama dan selama ini cenderung telantar.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM M. Naim mengungkapkan Hutan Wanagama berkontribusi besar untuk p endidikan dan penelitian. Selain fungsi akademis, Hutan Wanagama pun dimanfaatkan sebagai obyek wisata.

Beberapa kemenarikan H utan Wanagama adalah kehadiran air terjun, lebih dari lima mata air yang tidak kering sepanjang tahun, serta kerimbunan lebih dari 100 jenis pohon.Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang tandus dan kering.

Kehidupan di lokasi ini dimulai ketika tim dari Fakultas Kehutanan UGM melakukan penghijauan dengan teori pembelukaran. Mereka me nanam sebanyak mungkin jenis tanaman pionir yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.

Tanam pionir yang didominasi jenis legum memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.

"Keberhasilan penghijauan di Hutan Wanagama Gunung Kidul mendorong UGM untuk mengembangkan penghijauan seluas 20.000 hektar di Hutan Wanagama II Jambi yang bertipe tropis basah. Hutan Wanagama III bertipe hutan monsoon juga dibangun di Ngawi. Hutan Wanagama menjadi spirit untuk kegiatan pembangunan kehutan an di wilayah lain. Dari Wanagama, kita membangun Indonesia," ujar Naim.

 

Menu

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Publikasi

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday338
mod_vvisit_counterYesterday575
mod_vvisit_counterThis week913
mod_vvisit_counterLast week3511
mod_vvisit_counterThis month9269
mod_vvisit_counterLast month12388
mod_vvisit_counterAll days521389

CSF TERKINI

xbannerlaunching


You are here: