Slide Show
 

CSF TERKINI

xbannerlaunching

Januari 2000-Desember 2009 Adalah Dekade Terpanas

E-mail Print PDF
TEMPO Interaktif, Jakarta -Sebuah analisis temperatur permukaan global terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan bahwa 2009 adalah tahun terpanas kedua setelah 1880. Di belahan bumi selatan, 2009 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat.
Meski 2008 merupakan tahun terdingin selama satu dekade karena pengaruh La Nina, yang mendinginkan Samudra Pasifik di kawasan tropis, temperatur pada 2009 kembali melonjak hingga hampir memecahkan rekor terpanas. Analisis yang dilakukan Goddard Institute for Space Studies (GISS), NASA, di New York menunjukkan, itu terjadi karena lenyapnya pengaruh La Nina pada tahun lalu.
Dibanding pada 2005, tahun lalu lebih dingin sepersekian derajat Celsius, sehingga 2009 berada bersama-sama dengan 1998, 2002, 2003, 2006, dan 2007 sebagai kelompok tahun terhangat kedua. "Orang selalu tertarik pada temperatur tahunan dan membuat pemeringkatan, tapi sering kali pembuatan peringkat itu tidak sesuai dengan tujuan," kata James Hansen, Direktur GISS. "Ada variabilitas temperatur global yang disebabkan siklus La Nina-El Nino dari tahun ke tahun. Ketika kami merata-ratakan temperatur selama lima hingga 10 tahun untuk meminimalkan variabilitas itu, kami menemukan bahwa pemanasan global terus melaju dengan kekuatan penuh."
Januari 2000 sampai Desember 2009 adalah dekade terpanas dalam catatan selama ini. Pada 1880, ketika peralatan ilmiah modern tersedia untuk memantau temperatur dengan akurat, tren pemanasan mulai terlihat, meski sempat terhenti antara 1940-an dan 1970-an.
Dalam tiga dekade terakhir, catatan temperatur permukaan GISS memperlihatkan tren peningkatan 0,2 derajat Celsius per dekade. Secara total, temperatur rata-rata global telah naik sekitar 0,8 derajat Celsius sejak 1880. "Itu angka penting yang harus tetap diingat," kata pakar klimatologi GISS, Gavin Schmidt. "Perbedaan antara tahun kedua dan keenam terpanas tidak berarti karena ketidakpastian dalam pengukuran temperatur jauh lebih besar daripada perbedaan di antara tahun terpanas."

TEMPO Interaktif, Jakarta -Sebuah analisis temperatur permukaan global terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan bahwa 2009 adalah tahun terpanas kedua setelah 1880. Di belahan bumi selatan, 2009 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat.

Meski 2008 merupakan tahun terdingin selama satu dekade karena pengaruh La Nina, yang mendinginkan Samudra Pasifik di kawasan tropis, temperatur pada 2009 kembali melonjak hingga hampir memecahkan rekor terpanas. Analisis yang dilakukan Goddard Institute for Space Studies (GISS), NASA, di New York menunjukkan, itu terjadi karena lenyapnya pengaruh La Nina pada tahun lalu. 

Dibanding pada 2005, tahun lalu lebih dingin sepersekian derajat Celsius, sehingga 2009 berada bersama-sama dengan 1998, 2002, 2003, 2006, dan 2007 sebagai kelompok tahun terhangat kedua. "Orang selalu tertarik pada temperatur tahunan dan membuat pemeringkatan, tapi sering kali pembuatan peringkat itu tidak sesuai dengan tujuan," kata James Hansen, Direktur GISS. "Ada variabilitas temperatur global yang disebabkan siklus La Nina-El Nino dari tahun ke tahun. Ketika kami merata-ratakan temperatur selama lima hingga 10 tahun untuk meminimalkan variabilitas itu, kami menemukan bahwa pemanasan global terus melaju dengan kekuatan penuh." 

Januari 2000 sampai Desember 2009 adalah dekade terpanas dalam catatan selama ini. Pada 1880, ketika peralatan ilmiah modern tersedia untuk memantau temperatur dengan akurat, tren pemanasan mulai terlihat, meski sempat terhenti antara 1940-an dan 1970-an.

Dalam tiga dekade terakhir, catatan temperatur permukaan GISS memperlihatkan tren peningkatan 0,2 derajat Celsius per dekade. Secara total, temperatur rata-rata global telah naik sekitar 0,8 derajat Celsius sejak 1880. "Itu angka penting yang harus tetap diingat," kata pakar klimatologi GISS, Gavin Schmidt. "Perbedaan antara tahun kedua dan keenam terpanas tidak berarti karena ketidakpastian dalam pengukuran temperatur jauh lebih besar daripada perbedaan di antara tahun terpanas."

 

Login

Pilihan Pembaca

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday124
mod_vvisit_counterYesterday486
mod_vvisit_counterThis week1723
mod_vvisit_counterLast week3302
mod_vvisit_counterThis month3624
mod_vvisit_counterLast month13639
mod_vvisit_counterAll days298730

You are here: