Slide Show
 

Forum

Forum

Klipping

Danau Tondano Terancam Menjadi Kering

E-mail Print PDF
MANADO, KOMPAS.com - Danau Tondano yang berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), terancam dangkal atau kekeringan, karena kurangnya penanggulangan lingkungan dari pemerintah dan masyarakat.
"Masyarakat terkesan kurang serius menangani persoalan di Danau Tondano yang bisa berakibat penurunan debit air secara signifikan," kata Kepala Badan Pengelolah Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Tondano, Widiasmoro Sigit, di Manado, Rabu (3/2/2010).
Menurutnya, setiap tahun debit air danau itu turun sekitar 40 hingga 50 centimeter (cm) dan bisa kering 15 hingga 20 tahun mendatang.
Kondisi Danau Tondano diperparah dengan ancaman pemanasan global, tidak adanya penghijauan, meningkatnya aktifitas masyarakat, pembalakan liar, kebakaran, konversi hutan, pertambangan golongan C yang mengakibatkan erosi dan sedimentasi.
"BP DAS Tondano hanya menangani persoalan di aliran sungai dari Danau Tondano, tetapi merasa prihatin dengan kondisi Danau yang saat ini terjadi degradasi," katanya.
Akibat degradasi lingkungan di danau itu, kedalaman danau menjadi sekitar 20 meter dari permukaan, padahala pada 1934 dalamnya mencapai 40 meter, sedangkan tahun 1983 sekitar 27 meter.
Anggota DPRD Sulut Steven Kandouw mengaku prihatin dan berharap pemerintah daerah menghijaukan kembali pesisir danau itu.
Menurutnya, Danau Tondano memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti menyuplai air bersih ke Perusahaan Air Minum di Minahasa, Minahasa Utara serta Kota Manado, menjadi media budidaya ikan tawar, pembangkit listrik Tanggari dan Tonsea serta pariwisata.

MANADO, KOMPAS.com - Danau Tondano yang berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), terancam dangkal atau kekeringan, karena kurangnya penanggulangan lingkungan dari pemerintah dan masyarakat.

Read more...
 

Tanzania Tuan Rumah Konferensi Adaptasi Perubahan Iklim

E-mail Print PDF
TEMPO Interaktif, Jakarta - Konferensi Internasional ke-4 tentang Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas bakal berlangsung di Dar es Salaam, Tanzania. Acara yang diadakan 24-26 Februari itu dihadiri ratusan pakar perubahan iklim dan lembaga swadaya masyarakat internasional. Mereka akan mendiskusikan upaya masyarakat mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan apa saja kebijakan pemerintah yang dibutuhkan.
Pertemuan akbar ini diselenggarakan International Institute for Enviroment and Development (IIED), Protection Management Services (EPMS, Tanzania), Bangladesh Centre for Advanced Studies (BCAS), dan Ring Alliance. Sesi khusus berfokus pada bagaimana masyarakat di daerah perkotaan atau pedesaan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim seperti gelombang panas, banjir dan kekeringan.
“Perubahan iklim merupakan masalah global, tetapi dampaknya selalu lokal dan oleh karena itu perlu solusi," kata Dr Hannah Reid, Peneliti Senior IIED dalam siaran persnya, Rabu (3/2). Menurutnya, masyarakat di seluruh dunia telah merasakan dampak perubahan iklim dan mengambil tindakan untuk mengurangi kerentanan. Pertemuan ini menjadi tempat untuk tukar menukar kisah sukses agar bisa diterapkan di wilayah lain.
Konferensi bertujuan mengidentifikasi strategi jitu berbagi informasi antara masyarakat yang rentan. Selain itu mempromosikan adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat ke dalam kebijakan program pembangunan di level nasional dan internasional. “Komunitas merupakan wahana yang baik untuk mendorong proyek-proyek adaptasi karena mereka paling tahu apa tantangan yang dihadapi,” kata Reid. Dia mendorong semua pemangku kepentingan memanfaatkan pendekatan bottom-up.
Harapan yang sama diungkapkan Euster Kibona dari EPMS. Tukar menukar pengalaman, katanya, sangat bermanfaat untuk merumuskan strategi adaptasi masyarakat yang terkena risiko terbesar dari perubahan iklim. Menurutnya, konferensi akan membuka peluang pendanaan bagi proyek-proyek adaptasi di tingkat akar rumput. Peserta konferensi akan mengunjungi proyek-proyek adaptasi perubahan iklim di Dar es Salaam.
Sejumlah lembaga internasional mendanai konferensi ini. Antara lain AfricaAdapt, the British Council, CARE, Christian Aid, EPMS, FAO (Communication for Sustainable Development Initiative), GTZ, IDRC, IFAD, IIED, OXFAM, Practical Action, The Rockefeller Foundation, The Development Fund (Norway), UNDP, World Food Programme, dan WWF.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Konferensi Internasional ke-4 tentang Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas bakal berlangsung di Dar es Salaam, Tanzania. Acara yang diadakan 24-26 Februari itu dihadiri ratusan pakar perubahan iklim dan lembaga swadaya masyarakat internasional. Mereka akan mendiskusikan upaya masyarakat mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan apa saja kebijakan pemerintah yang dibutuhkan.

Read more...
 

Penanganan Pencemaran Laut Timor Memasuki Titik Terang

E-mail Print PDF
Kupang (ANTARA News) - Penanganan pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak dari ladang minyak Montara di Blok Atlas Barat pada 21 Agustus 2009, mulai memasuki titik terang.
Hal ini mulai tampak setelah tim nasional penanganan tumpahan minyak di Laut Timor merumuskan tiga hal terkait dengan penyelesaian masalah dimaksud pada Selasa (2/2) di Jakarta, kata pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni di Kupang, Rabu.
Tanoni yang juga Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) mengemukakan hal tersebut ketika dikonfirmasi terkait hasil pertemuan tim nasional yang dihadirinya bersama unsur terkait lainnya di Kantor Kementerian Perhubungan Jakarta.
Pertemuan yang dipimpin Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Soenaryo itu dihadiri pula unsur-unsur dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta pihak terkait dari Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Bupati Rote Ndao, Ketua Posko Penanggulangan Pencemaran Minyak di Laut Timor untuk NTT dan Ketua YPTB.
Tanoni menjelaskan, tiga hal yang dirumuskan itu adalah mengkaji dampak lingkungan dan sosial ekonomi akibat tumpahan minyak di Laut Timor melalui survei lanjutan, serta menghitung seluruh biaya operasional penanggulangan kerugian lingkungan dan sosial ekonomi akibat tumpahan minyak.
Rumusan berikutnya adalah memformulasikan hasil analisis dan dukungan data lainnya guna penyusunan klaim ganti rugi akibat kebocoran Montara Well Platform (MWP) kepada pihak yang bertanggung jawab, dalam hal ini perusahaan pengebor yang akan dikoordinasikan oleh tim nasional.
"Ini sebuah langkah maju dan telah menuju pada suatu titik terang penyelesaian masalah pencemaran minyak di Laut Timor secara menyeluruh," kata Tanoni yang juga penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik Canberra-Jakarta" itu.
Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu mengaku sempat bersitegang dengan Dirjen Perhubungan Laut Soenaryo, karena menuduhnya sebagai provokator dalam membesar-besarkan masalah pencemaran minyak di Laut Timor.
Ia mengaku bahwa selama ini dirinya yang mengirim surat kepada pemerintah federal Australia di Canberra serta pemerintah Indonesia di Jakarta terkait dengan masalah pencemaran minyak di Laut Timor.
"Saya yang selama ini membuat surat-surat kepada pemerintah Indonesia dan Australia, dan juga selalu bersama-sama dengan nelayan dan petani rumput laut setempat yang menderita akibat tumpahan minyak yang hingga saat ini belum pernah mendapat perhatian serius dari tim nasional," kata Tanoni polos.
Ia menambahkan, kehadirannya dalam pertemuan dengan tim nasional tersebut untuk menyamakan persepsi tentang kebenaran pencemaran minyak di Laut Timor dan langkah-langkah lanjutan penanggulangan dan tuntutan ganti rugi terhadap operator ladang Montara, PTTEP Australasia melalui pemerintah federal Australia.
Menurut dia, sudah merupakan tanggung jawab pemerintah federal Australia untuk membela kepentingan masyarakat Timor bagian barat NTT yang selama perang dunia kedua telah mengorbankan puluhan ribu nyawa untuk membendung lajunya pasukan Jepang yang hendak menguasai Australia dari arah utara. (*)

Kupang (ANTARA News) - Penanganan pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak dari ladang minyak Montara di Blok Atlas Barat pada 21 Agustus 2009, mulai memasuki titik terang.

Read more...
 

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

E-mail Print PDF
Jakarta, Kompas - Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan.
Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD).
”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2) di Jakarta.
Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja telah menyampaikan gagasannya kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Bambu Nasional. Kebijakan itu dikeluarkan Sarwono saat menjabat Menteri Lingkungan Hidup periode 1996-1997.
Peneliti bambu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Hutan dan Konservasi Alam pada Badan Litbang Kehutanan di Departemen Kehutanan Sutiyono menjelaskan, fotosintesis bambu memiliki mekanisme C4, sedangkan pohon jenis lainnya C3. Artinya, fotosintesis bambu lebih efisien.
Peeters mengatakan, apresiasi dunia terhadap bambu kini meningkat, seperti di Bandara Barajas, Madrid, Spanyol, yang menggunakan bambu untuk langit-langit gedungnya.(NAW)

Jakarta, Kompas - Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan.

Read more...
 

Walhi: Stop Alih Fungsi Rawa di Palembang

E-mail Print PDF
Palembang (ANTARA News) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Selatan (Sumsel) mendesak pemda dan para pihak di daerahnya, untuk menghentikan segala bentuk alih fungsi, termasuk penimbunan, rawa di Kota Palembang menjadi kantor pemerintah maupun kepentingan bisnis swasta.
Manajer Pengembangan Sumber Daya Organisasi (PSDO) WALHI Sumsel, Hadi Jatmiko, mendampingi Direktur Eksekutif, Anwar Sadat, di Palembang, Selasa, menegaskan desakan stop alih fungsi rawa itu, guna mencegah bencana dan memaksimalkan resapan air untuk menghindari banjir.
Hadi menyebutkan, sebagian dari luas Kota Palembang 40.000 ha adalah rawa yang berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1991 didefinisikan bahwa rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat, serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik, kimiawi, dan biologis.
"Atas dasar inilah maka wajib bagi pemerintah untuk menjaga dan melindungi ekosistem rawa itu," kata Hadi pula.
Namun kenyataan yang terjadi saat ini, lahan rawa yang tadinya mempunyai luas 22.000 ha, kini hanya tersisa sekitar 30 persen dari luas tersebut (7.300 ha ).
Penyusutan lahan rawa itu, akibat alih fungsi rawa yang dijadikan perumahan, perkantoran dan pergudangan oleh pihak swasta maupun pemda itu sendiri.
Dia mencontohkan, konversi rawa oleh PT Orchid Residence Indonesia seluas 8 ha untuk pembangunan apartemen, pembangunan Komplek Perumahan Citra Grand City oleh Ciputra Grup dengan luas lahan rawa mencapai 60 ha, pembangunan kantor Bank Sumsel di Jakabaring seluas 3 ha, pembangunan gedung DPRD Kota Palembang 5 ha, dan pembangunan fasilitas lainnya.
Parahnya, menurut Hadi, konversi rawa tersebut dilegalkan oleh Pemerintah Kota Palembang melalui Perda No. 5 Tahun 2008 tentang Pengendalian dan Retribusi Lahan Rawa, dalam salah satu pasalnya menyebutkan bahwa untuk pengalihfungsian lahan rawa di Kota Palembang, pengembang cukup dengan membayar retribusi sesuai yang telah ditetapkan.
Atas bertambah luas lahan rawa yang dikonversikan itu (tersisa 7.300 ha), membuat Kota Palembang terus mengalami bencana banjir, baik banjir yang diakibatkan oleh hujan maupun karena pasang surut air Sungai Musi.
Tetapi dengan rentannya bencana banjir tersebut, tidaklah menjadikan Pemkot Palembang dan Pemprov Sumsel untuk menghentikan semua kebijakan yang telah mengizinkan alih fungsi rawa di kota Ini, kata Hadi pula.
Dia menyebutkan keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang yang masih memberikan Izin terhadap rencana pembangunan gedung perkantoran untuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel seluas 80 ha di lahan rawa Jakabaring, serta pemberian Izin terhadap pembangunan gedung Carrefour seluas 5 ha di Jakabaring dalam waktu dekat ini yang juga mengalihkan fungsi lahan rawa.
Padahal dengan kebijakan itu, lanjut Hadi, dapat dipastikan bahwa ke depan akan semakin meluas dan merata bencana banjir di seluruh pelosok kota itu.
Karena itu, WALHI Sumsel menolak rencana pembangunan kompleks perkantoran Pemprov Sumsel, gedung Carrefour, dan lainnya yang akan mengalih fungsikan (penimbunan) lahan rawa di Jakabaring karena akan berdampak timbul bencana banjir.
WALHI Sumsel juga mendesak segera mencabut atau merevisi Perda No. 5 Tahun 2008 tentang Pembinaan dan Retribusi Pengendalian serta Pemanfaatan Rawa yang selama ini hanya melegitimasi pengalihfungsian lahan rawa di Kota Palembang.
Sebelumnya, sejumlah pedagang pengecer di Pasar Induk Jakabaring, Palembang, juga menyatakan keberatan bila Carrefour pindah ke kawasan itu, karena dinilai akan
mematikan bisnis mereka yang berlangsung di pasar tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, Carrefour, sebuah perusahaan asal Prancis, akan membangun gedung di kawasan Jakabaring, Palembang.
Peluang ini setelah Pemprov Sumsel menyediakan lahan seluas dua hektare di Jakabaring itu.
Asisten II Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Eddy Hermanto, menjelaskan. lahan dua hektare itu akan dibangun oleh Carrefour dengan pola BOT (Build Operate and Transfer).
Carrefour yang berseteru dengan PT BJLS (Bayu Jaya Lestari Sukses) beberapa waktu soal penyewaan mereka di Palembang Square, Jl Angkatan 45, diberi waktu maksimal hingga awal tahun depan di mal tersebut.
Menurut Eddy Hemanto, pola BOT yang ditawarkan sangat menguntungkan Pemprov Sumsel.
Lahan kosong milik pemerintah Sumsel itu berada di Jakabaring, di samping Gedung Olahraga (GOR) Jakabaring, akan dimanfaatkan dan dibangun PT Carrefour Indonesia dengan pola BOT selama 20-30 tahun.(T.B014/K004)

Palembang (ANTARA News) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Selatan (Sumsel) mendesak pemda dan para pihak di daerahnya, untuk menghentikan segala bentuk alih fungsi, termasuk penimbunan, rawa di Kota Palembang menjadi kantor pemerintah maupun kepentingan bisnis swasta.

Read more...
 
Page 4 of 31

Menu

Login

Follow us on Twitter

Pilihan Pembaca

Berbagi Buku

Download Area

Workshop Nasional Climate Change Marriot 26 Januari 2010 


 
download

You are here:

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday264
mod_vvisit_counterYesterday332
mod_vvisit_counterThis week1579
mod_vvisit_counterLast week2044
mod_vvisit_counterThis month2976
mod_vvisit_counterLast month9504
mod_vvisit_counterAll days99482

Kliping Berita

Jakarta, Kompas - Akan ada penandatanganan perjanjian bantuan untuk pendanaan dalam kerangka perubahan iklim di Kopenhag...

Latest Visitors

Pengunjung Terakhir
IP VisitorWaktu
» net70-178.nsk.ertelecom.ru 1m ago
» ip-91-212-226-20.server.lu 12m ago
» ip-91-212-226-20.server.lu 31m ago

Need Volunteers

Need Volunteers

Support H E L P

H E L P

Keadilan Iklim