Diskusi tematik CSF kerja sama dengan Majalah forum Keadilan, Rabu, 19 Oktober 2011 di Kantor Majalah Forum, Jl. Pekayon I No. 26, Pejaten Barat Jakarta Selatan.
“Di perkampungan kami apabila banjir rob datang, maka anak-anak kecil rentan terkena pilek, gatal-gatal dan diare. Apalagi saat angin Barat. (Salim, Muara Angke-Jakarta).
Perubahan iklim tidak sekedar wacana. Bukti-bukti dampak perubahan iklim telah terasakan, tak bisa lagi diingkari. Sektor kesehatan salah satunya yang disinyalir mengalami tekanan berat karena dampak perubahan iklim. Meningkatnya suhu, kelembaban, dan kecepatan angin dapat meningkatkan populasi, memperpanjang umur, dan memperluas penyebaran vektor penyakit (Kompas, 22/6/2010).
Musim hujan yang cenderung lebih pendek dengan curah lebih tinggi, dan musim kemarau lebih panjang akan mengakibatkan peningkatan risiko bencana seperti banjir, badai, kekeringan. Pada akhirnya, berdampak pada sector kesehatan; kekurangan gizi, diare, ISPA, campak, DBD dll.
WHO menyebutkan pada 2009 penyakit Malaria telah menginfeksi 3,3 milyar orang pada 109 negara, menyebabkan kurang lebih sejuta orang meninggal setiap tahunnya. Di Indonesia, sekitar 80 persen Kabupaten pada 2007 dinyatakan endemis Malaria. Sementara kasus demam berdarah (DBD), data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat jumlah kasus DBD pada 2009 mencapai sekitar 150 ribu, menyebabkan sekitar 1.420 korban meninggal. Urutan paling paling tinggi di Negara ASEAN. (Departemen Kesehatan, 2010).
Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah semakin rentan terhadap berbagai dampak perubahan iklim. Masyarakat miskin, baik di kota, desa, kepulauan, pesisir dan hutan, adalah komunitas paling rentan menghadapi berbagai macam penyakit. Hal ini disebabkan mereka kurang memiliki akses terhadap layanan kesehatan. Mulai dari tingginya biaya pengobatan dan rumah sakit, buruknya sistem sanitasi, atau tidak tercukupinya air bersih.
Sementara kesadaran tentang dampak perubahan iklim dan efeknya terhadap kesehatan masih rendah. Baik dikalangan pengambil keputusan, pelaksana program dan masyarakat. Agenda penanganan dampak perubahan iklim, baik national maupun internasional masih berkutat pada isu mitigasi, bagaimana menurunkan emisi di sektor kehutanan, di Negara berkembang. Selain pemahaman yang sangat terbatas mengenai strategi mitigas dan adaptasi perubahan iklim oleh berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan.
Itulah mengapapa isu kesehatan menjadi topik penting dalam kerangka merespon dampak peruahan iklim. Civil Society Forum for Climate Justrice (CSF) mendorong prinsip-prinsip HELP atau Human Security, Ecological Debt, Land right, dan Production Consumption. Human Security atau Keselamatan Manusia mencakup hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia. Sector kesehatan yang tidak berdiri sendiri harus disikapi secara cerdas dalam menghadapi ancaman yang tinggi akibat perubahan iklim.
Tujuan:
1.Membangun kesadaran kritis para pihak mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan warga, komunitas dan lingkungannya.
2.Mendapatkan gambaran secara komprehensif persiapan yang dilakukan para pemangku kepentingan atas dampak perubahan iklim terhadap kesehatan
3.Mendapatkan usulan-usulan nyata mereduksi risiko bencana di sektor kesehatan akibat dampak perubahan iklim
Waktu dan Tempat;
Hari/tanggal : Kamis, 27 Oktober 2011
Jam : 10.00 – 13.00 WIB
Tempat : Kantor Majalah Forum, Jl. Pekayon I No. 26, Pejaten Barat Jakarta Selatan
Narasumber;
1. Mr. Sharad Adhikary; World Health Organization (WHO)
Bagaimana Pengalaman dan pembelajaran terbaik menangani penyakit-penyakit yang disebabkanoleh perubahan musim, seperti akibat Nyamuk. Apa yang perlu disiapkan Indonesia untuk mengurus gangguan kesehatan akibat perubahan iklim.
2. Tutut Indra Wahyuni, SKM. M. Kes. Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan
Bagaimana Pemerintah Membantu Masyarakat menghadapi dampak Perubahan Iklim terhadap kesehatan mereka.
3. Budi Haryanto; Universitas Indonesia
Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia dan komunitas, serta seberapa siap pengetahuan kedokteran memprediksi dan mampu merespon hal tersebut.
Moderator;
1. Sofyan “Eyanks” (Spesialis Pengurangan Risiko Bencana, Mercy Corps)
Peserta;
Diskusi ini akan diikuti oleh; Wakil pemerintah, Organisasi non pemerintah, organisasi massa, journalist, akademisi dan masyarakat.
















