“Negara gagal melihat masalah pangan. Bukannya memperbesar budget, justru mengundang investor, mendorong pertanian skala besar, mengabaikan potensi lokal dan impor yang terus meningkat” Ujar Tejo Wahyu Jatmiko, dari Aliansi untuk Desa Sejahtera pada diskusi “Keadilan Iklim dan Tantangan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh CSF bersama Majalah Forum keadilan (Jakarta, 21/9).
Ironi, bagi negara agraris yang tanahnya subur dan memiliki biodiversitas terbesar ke-2 di dunia setelah Brazil dan luas lautan sekitar 5,8 km2 dengan ribuan perairan, seperti sungai, danau, dan rawa, mengalami krisis pangan. Dan itu justru terjadi di wilayah potensial seperti Nusa Tenggara Timur (NTT). Sri Palupi dari Ecosoc Right menyebutkan Kabupaten Manggarai merupakan salah satu kabupaten di NTT yang kaya sumberdaya alam dan paling subur tanahnya. Namun prevalensi gizi buruk di kabupaten ini termasuk yang tertinggi di NTT.
Padahal menurut Khudori, ketersediaan pangan Indonesia, baik hewani dan nabati bisa dikatakan melimpah. Tercermin dari ketersediaan energi 3.907 kkal/kapita/hari, dan protein 85,32 gram/kapita/hari. Asupan yang cukup untuk membuat setiap orang Indonesia mengalami obesitas. Tapi nyatanya, kasus gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia masih cukup tinggi; 4,135 juta jiwa pada tahun 2007.
Krisis pangan saat ini dipengaruhi kebijakan-kebijakan yang mengalahkan pertanian rakyat. Misalnya UU No. 4/2004 tentang Sumber Daya Air, Perpres 36 dan 65/2006, UU No. 18/2003 Tentang Perkebunan, dan yang termutakhir UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal
Selain itu, negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan untuk mengatur mengatur produksi, distribusi dan konsumsi pangan sendiri. Pasar lebih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan.
Penting bagi semua pihak, khususnya pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan yang ada. Krisis pangan yang dihadapi Indonesia adalah sebuah akibat dari kebijakan dan praktek privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. Tanpa upaya perbaikan kebijakan pemerintah, kondisi pangan Indonesia akan semakin berbahaya.
















