Slide Show
 

COP 18: Selamatkan Rakyat, Turunkan Emisi, Hentikan Membakar Bumi

Pada 26 November – 7 Desember 2012 akan berlangsung KTT Perubahan Iklim di Doha Qatar. Dunia menjadi saksi meningkatnya krisis iklim. Mulai badai Sandy  di Amerika Serikat hingga banjir dan berbagai bencana lingkungan lainnya  yang makin rutin dan meluas di negara-negara Asia. Namun, para pemimpin Negara industri justru mempermainkan nasib penduduk bumi lewat ketidakpastian penurunan emisi, dan dukungan adaptasi bagi negara-negara berkembang dan miskin. Tak hanya menjadi batu sandungan dalam tiap KTT Iklim, yang membuat Kyoto Protokol periode pertama berakhir 2012 tanpa kesepakatan mandat penurunan emisi Negara Industri. Amerika Serikat berusaha membawa substansi negosiasi iklim ke dalam negosiasi informal di luar skema PBB - UNFCCC, melalui Major Economies Forum on Energy and Climate. Indonesia adalah salah satu anggotanya. Bagaimana nasib Keselamatan Penduduk bumi ke depan?



Pemanasan Global Ancam Pasokan Air"""
MP3EI, Ekonomi Hijau
ala Indonesia?
Cara Petani Beradaptasi dengan Iklim

Gaya Hidup

Ingin ramah pada iklim dan pada dirimu? Mulailah mengenali berapa banyak barang yang kau gunakan, darimana semua itu berasal dan bagaimana berhemat dan mengurangi pemakaiannya. Makin banyak barang dikonsumsi, makin banyak air, energi dan sumber daya lainnya yang digunakan. Jangan lupa, membagi cerita dan tips-tips  itu di  "Gaya Hidup". Cerita yang dimuat akan mendapatkan paket hadiah Keadilan Iklim.


Gaya Mojang Trendy Jadikan Jawa Barat Jawara Emisi Karbon

E-mail Print PDF
Saat dunia tengah hangat membicarakan soal perubahan iklim dan karbon lewat program REDD+ di Rio de Janeiro, dan para pemimpin dunia sibuk mencari cara terbaik menekan emisi karbon, ternyata fakta mengejutkan ada di depan mata kita. Tak hanya penebangan hutan dan perusakan hutan gambut yang melepas karbon ke udara, tapi juga gaya hidup kita sehari-hari, yang justru kini lebih siginifikan menyumbang emisi karbon secara besar-besaran.
Read more...
 

Gabus, Kanker & Kuliner

E-mail Print PDF


Siapa yang tak kenal Gabus? Benda kenyal berwarna putih yang multi fungsi. Sebutan susahnya styrofoam. Gabus memiliki sifat minimalis, ringan, tahan terhadap panas maupun dingin, dan relatif tahan bocor.
Tak banyak yang tahu, bahan dasar Gabus adalah minyak bumi, salah satu bentuk energi fosil - penyebab utama emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan Pemanasan Global.
Jika dulu Gabus dikenal sebagai pembungkus barang-barang elektronik. Ini hari penggunaannya semakin meluas, merambah dunia kuliner. Harga yang lumayan murah, membuat Gabus banyak diminati para pedagang, mulai kaki lima yang mangkal di sekolah-sekolah, hingga cafe dan restauran- restauran mahal menggunakan pembungkus makanan dari Gabus.
Tapi Gabus patut diwaspadai. Ia bisa membuat makanan yang mulanya bergizi berubah menjadi berbahaya. Bagaimana bisa? Zat kimia dalam Gabus akan terurai dalam makanan yang berlemak, atau banyak mengandung minyak, bersifat asam dan beralkohol.
Jangan membungkus makanan atau minuman dalam keadaan panas. Sebab bisa mengakibatkan terjadinya perpindahan zat Karsinogen dari Gabus ke makanan atau minuman. Saat kita makan, ia masuk ke tubuh kita. Bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh itu tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui kencing maupun kotoran. Penumpukan bahan-bahan kimia berbahaya di dalam tubuh dapat memicu munculnya kanker.
World Health Organization, International Agency for Research on Cancer, dan EPA telah mengelompokkan Gabus sebagai bahan karsinogen (bahan penyebab kanker). EPA atau Badan Lingkungan Amerika Serikat menyatakan pembuatan Gabus sebagai penghasil limbah berbahaya ke- 5 terbesar di dunia. Selain menimbulkan bau tak sedap, Gabus juga melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu Gabus dalam makanan sangat berbahaya. Dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), penyakit gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.
Selain kesehatan, limbah Gabus juga mempengaruhi lingkungan. Sebab, ia salah satu bahan pembungkus makanan yang susah terurai di alam, jika dibakar asap hasil pembakaran tersebut dapat berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan, yang berujung pada penambahan Gas Rumah Kaca. Bagaimana bisa? Sebab Gabus dibuat dari campuran 90-95% polistirena dan 5-10% gas dengan menggunakan blowing agent seperti CFC (freon).
CFC sebagai bahan peniup pada pembuatan Gabus merupakan gas yang tidak beracun, stabil dan mudah terbakar. Saking stabilnya, gas ini baru bisa terurai sekitar 65-130 tahun kemudian. Gas ini akan melayang di udara mencapai lapisan ozon di atmosfer, reaksi kimia yang dihasilkan berpotensi membuat lapisan pelindung bumi itu berlubang. Disamping terganggunya ozon. Sementara Polistirena berasal dari minyak bumi. Makin banyak Gabus yang terbuang menjadi sampah, bahkan dibakar saat pengolahan sampah akan menambah kandungan GRK.
Tak ada cara lain, selain harus selektif memilih jenis makanan termasuk cara pengemasannya. Gunakan tempat isi ulang untuk membawa makanan. Misalnya kotak makanan, botol minuman isi ulang. Jika terpaksa banget, gunakan pembungkus kertas. Gabus ataupun plastik jangan digunakan untuk membungkus makanan yang bersuhu panas.
Tentu saja pembungkus makanan yang alami seperti daun jauh lebih sehat dari pembungkus- pembungkus makanan yang diproses secara kimiawi. Ada baiknya para ibu di rumah menyiapkan sendiri bekal sekolah putra- putri tercintanya. Selain hemat, juga aman menjaga kesehatan putra-putri tercinta dari penyakit-penyakit berbahaya lainnya. (Adel/2)

World Health Organization, International Agency for Research on Cancer, dan EPA telah mengelompokkan Gabus sebagai bahan karsinogen (bahan penyebab kanker). EPA atau Badan Lingkungan Amerika Serikat menyatakan pembuatan Gabus sebagai penghasil limbah berbahaya ke- 5 terbesar di dunia. Selain menimbulkan bau tak sedap, Gabus juga melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu Gabus dalam makanan sangat berbahaya. Dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), penyakit gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.

 

Read more...
 

BOCORNYA RESEP RAHASIA KFC

E-mail Print PDF

Siapa sih tak kenal Kentucky Fried Chicken atau yang lebih populer dengan sebutan KFC? Dari dulu KFC menjadisalah satu produkmakanan cepat saji  yang banyak digemari, gerai-gerainya  megah dan tidak pernah sepi pengunjung.Aroma dan rasa ayamnya yang gurih serta harganya yang terjangkau membuat semua kalangan menyukai KFC. Hingga saat ini  tak ada yang tahu resep rahasia Kolonel Sanders, pendiri KFC. Namun minggu lalu, Greenpeace berhasil mengetahui salah satu  rahasia itu. Ternyata kertas pembungkus ayam KFC berasal dari hutan alam Sumatera.

Read more...
 

Menu

Login

Follow Me

facebook2 twitter_logo

Publikasi

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday440
mod_vvisit_counterYesterday577
mod_vvisit_counterThis week2688
mod_vvisit_counterLast week3511
mod_vvisit_counterThis month11044
mod_vvisit_counterLast month12388
mod_vvisit_counterAll days523164

You are here: