Siapa yang tak kenal Gabus? Benda kenyal berwarna putih yang multi fungsi. Sebutan susahnya styrofoam. Gabus memiliki sifat minimalis, ringan, tahan terhadap panas maupun dingin, dan relatif tahan bocor.
Tak banyak yang tahu, bahan dasar Gabus adalah minyak bumi, salah satu bentuk energi fosil - penyebab utama emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan Pemanasan Global.
Jika dulu Gabus dikenal sebagai pembungkus barang-barang elektronik. Ini hari penggunaannya semakin meluas, merambah dunia kuliner. Harga yang lumayan murah, membuat Gabus banyak diminati para pedagang, mulai kaki lima yang mangkal di sekolah-sekolah, hingga cafe dan restauran- restauran mahal menggunakan pembungkus makanan dari Gabus.
Tapi Gabus patut diwaspadai. Ia bisa membuat makanan yang mulanya bergizi berubah menjadi berbahaya. Bagaimana bisa? Zat kimia dalam Gabus akan terurai dalam makanan yang berlemak, atau banyak mengandung minyak, bersifat asam dan beralkohol.
Jangan membungkus makanan atau minuman dalam keadaan panas. Sebab bisa mengakibatkan terjadinya perpindahan zat Karsinogen dari Gabus ke makanan atau minuman. Saat kita makan, ia masuk ke tubuh kita. Bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh itu tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui kencing maupun kotoran. Penumpukan bahan-bahan kimia berbahaya di dalam tubuh dapat memicu munculnya kanker.
World Health Organization, International Agency for Research on Cancer, dan EPA telah mengelompokkan Gabus sebagai bahan karsinogen (bahan penyebab kanker). EPA atau Badan Lingkungan Amerika Serikat menyatakan pembuatan Gabus sebagai penghasil limbah berbahaya ke- 5 terbesar di dunia. Selain menimbulkan bau tak sedap, Gabus juga melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu Gabus dalam makanan sangat berbahaya. Dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), penyakit gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.
Selain kesehatan, limbah Gabus juga mempengaruhi lingkungan. Sebab, ia salah satu bahan pembungkus makanan yang susah terurai di alam, jika dibakar asap hasil pembakaran tersebut dapat berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan, yang berujung pada penambahan Gas Rumah Kaca. Bagaimana bisa? Sebab Gabus dibuat dari campuran 90-95% polistirena dan 5-10% gas dengan menggunakan blowing agent seperti CFC (freon).
CFC sebagai bahan peniup pada pembuatan Gabus merupakan gas yang tidak beracun, stabil dan mudah terbakar. Saking stabilnya, gas ini baru bisa terurai sekitar 65-130 tahun kemudian. Gas ini akan melayang di udara mencapai lapisan ozon di atmosfer, reaksi kimia yang dihasilkan berpotensi membuat lapisan pelindung bumi itu berlubang. Disamping terganggunya ozon. Sementara Polistirena berasal dari minyak bumi. Makin banyak Gabus yang terbuang menjadi sampah, bahkan dibakar saat pengolahan sampah akan menambah kandungan GRK.
Tak ada cara lain, selain harus selektif memilih jenis makanan termasuk cara pengemasannya. Gunakan tempat isi ulang untuk membawa makanan. Misalnya kotak makanan, botol minuman isi ulang. Jika terpaksa banget, gunakan pembungkus kertas. Gabus ataupun plastik jangan digunakan untuk membungkus makanan yang bersuhu panas.
Tentu saja pembungkus makanan yang alami seperti daun jauh lebih sehat dari pembungkus- pembungkus makanan yang diproses secara kimiawi. Ada baiknya para ibu di rumah menyiapkan sendiri bekal sekolah putra- putri tercintanya. Selain hemat, juga aman menjaga kesehatan putra-putri tercinta dari penyakit-penyakit berbahaya lainnya. (Adel/2)
World Health Organization, International Agency for Research on Cancer, dan EPA telah mengelompokkan Gabus sebagai bahan karsinogen (bahan penyebab kanker). EPA atau Badan Lingkungan Amerika Serikat menyatakan pembuatan Gabus sebagai penghasil limbah berbahaya ke- 5 terbesar di dunia. Selain menimbulkan bau tak sedap, Gabus juga melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu Gabus dalam makanan sangat berbahaya. Dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), penyakit gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.