Slide Show
 

Forum

Forum

Kami Butuh Perubahan Sistem – Bukan Perubahan iklim

E-mail Print PDF

Deklarasi Masyarakat dari Klimaforum09



1. Pembukaan

Ada solusi untuk krisis iklim. Yang dibutuhkan manusia dan planet ini adalah transisi berkelanjutan dan adil dari masyarakat kita untuk suatu bentuk yang akan menjamin hak-hak hidup dan martabat dari semua bangsa dan melahirkan planet yang lebih subur dan lebih memuaskan kehidupan untuk generasi sekarang dan mendatang. Transisi yang berdasarkan pada prinsip-prinsip solidaritas yang demokratis, terutama bagi yang paling rentan, non-diskriminasi, kesetaraan gender, dan keberlanjutan, mengakui bahwa kita adalah bagian dari alam, yang kita cintai dan hargai. Untuk menyikapi krisis iklim diperlukan penciptaan kesadaran dan tindakan teguh yang mengikuti kerangka kerja berbasis hak.. Semua bangsa memiliki kewajiban untuk bekerja sama secara internasional untuk memastikan penghormatan hak asasi manusia dimanapun di dunia sesuai Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kami, masyarakat, komunitas dan semua organisasi yang berpartisipasi di Klimaforum09 di Kopenhagen, menyerukan kepada setiap orang, organisasi, pemerintahan dan lembaga-lembaga, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk berkontribusi dalam transisi yang sangat dibutuhkan. Ini akan menjadi tugas yang menantang. Krisis hari ini memilikia spek-aspek ekonomi, sosial, lingkungan, geopolitik, dan ideologis yang saling terkait dan menguat termasuk di dalamnya krisis iklim. Krisis ganda ini –(antara lain iklim, energi, keuangan, makanan, dan air), mendesak kita untuk bersatu dan mengubah sistem sosial dan ekonomi yang dominan serta tata pemerintahan global, yang menghambat lahirnya solusi penting untuk krisis iklim. Karena ini, gerakan dari bawah diserukan untuk bertindak sekarang.

Utang lingkungan dan iklim harus dibayar. Solusi palsu, berbahaya dan  jangka pendek tidak boleh dipromosikan dan diadopsi, seperti tenaga nuklir, bahan bakar nabati (agrofuel), offsetting, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), biochar, geo-engineering, dan perdagangan karbon. Sebaliknya, kita harus melaksanakan transisi yang benar-benar berkelanjutan dibangun di atas sumber daya yang bersih, aman dan terbarukan serta konservasi energi. Kami menyambut aliansi lintas gerakan sosial dan sektoral, yang mewakili semua usia, jenis kelamin, etnis, agama, masyarakat dan bangsa.

Kami ingin membawa masa depan ke dalam tangan kita sendiri dengan membangun sebuah gerakan rakyat yang kuat terdiri dari pemuda, 
perempuan, laki-laki, pekerja, petani, nelayan, masyarakat adat, warga dari semua warnakulit, kelompok-kelompok sosial perkotaan dan kelompok-kelompok sosial pedesaan yang mampu bertindak pada semua tingkatan masyarakat untuk mengatasi degradasi lingkungan dan perubahan iklim. Kami menyerukan sebuah tatanan ekonomi internasional yang baru dan mendukung PBB yang kuat dan demokratis dan bukannya G8, G20 atau kelompok tertutup lain dari negara-negara adidaya. 


2. Tantangan, seperti yang kita lihat:

Konsentrasi gas rumah kaca (GHGs) di atmosfir sudah begitu tinggi sehingga sistem iklim kehilangan keseimbangan. Konsentrasi CO2 dan suhu global meningkat lebih cepat dalam 50 tahun terakhir dan akan meningkat lebih cepat dekade mendatang. Hal ini menambah banyak ketidakseimbangan ekologis serius lainnya, dampak yang mengancam kehidupan dan mata pencaharian masyarakat di dunia, dan yang paling akut, masyarakat miskin dan kelompok rentan lainnya.

Ketidakseimbangan sistem iklim menyebabkan antara lain pola curah hujan dan panas ekstrim yang lebih besar dan lebih sering, badai tropis, badai dan topan, banjir ekstrem dan kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, tanah longsor, kenaikan permukaan laut, kekurangan air minum, musim tanam yang lebih pendek, hasil yang lebih rendah, hilang atau memburuknya lahan pertanian, penurunan produksi pertanian, musnahnya ternak, kepunahan ekosistem, persediaan ikan berkurang. Fenomena ini mengakibatkan krisis pangan, kelaparan, penyakit, kematian, tergusurnya penduduk, dan kepunahan dari cara hidup yang berkelanjutan. Berkaitan dengan ini adalah pengenalan organisme yang direkayasa secara genetik (GMO), pertanian monokultur dan industrialisasi pertanian yang sangat dipromosikan oleh perusahaan - perusahaan yang serius mengancam stabilitas dan keanekaragaman ekosistem. Hal ini juga meminggirkan dan memiskinkan petani skala kecil dan merongrong kedaulatan pangan. Pertanian yang dikuasai perusahaan diarahkan untuk memenuhi permintaan global untuk konsumsi berlebihan terutama di Utara dan bukan untuk kebutuhan dasar lokal. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai industri modern perikanan, kehutanan dan pertambangan intensif yang merusak ekosistem, mengurangi keanekaragaman hayati serta menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian masyarakat lokal.

Efek-efek dari perubahan iklim ini beserta kesenjangan sosial yang melebar dan dampak buruk terhadap lingkungan kita bersama telah menghancurkan kehidupan jutaan orang serta komunitas lokal mereka. Namun, kami -rakyat- tidak siap untuk menerima kenyataan ini sebagai takdir. Itu sebabnya gerakan rakyat yang semakin meluas bertekad untuk mempertahankan penghidupan mereka dan  menentang kekuatan dan penyebab kerusakan lingkungan ini.

Di Asia, Afrika, Timur Tengah, negara-negara kepulauan Pasifik (Oseania), Amerika Selatan dan Tengah serta di pinggiran Amerika Utara dan Eropa, gerakan masyarakat meningkat untuk melawan eksploitasi tanah mereka oleh kepentingan asing dan untuk merebut kembali kontrol atas sumber daya alam mereka. Aktivisme jenis telah menghidupkan kembali gerakan lingkungan, yang mendorong munculnya berbagai protes dan aksi  melawan pertambangan, bendungan besar, penggundulan hutan, pembangkit listrik tenaga batubara, perjalanan udara dan pembangunan jalan baru.

Kesadaran tentang perlunya mengubah paradigma ekonomi saat ini dengan cara yang sangat mendasar terus meningkat. Dari berbagai gerakan ini, gaya hidup alternatif semakin berkembang. Pada saat yang sama, menjadi semakin jelas bagi masyarakat bahwa pemegang kekuasaan saat ini tidak mau menghadapi dan menangani ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Strategi 'pertumbuhan hijau' atau 'pertumbuhan berkelanjutan' ternyata hanya menjadi alasan untuk mengejar model dasar pembangunan ekonomi yang sama, yang merupakan salah satu akar penyebab dari kerusakan lingkungan dan krisis iklim.

3. Penyebab-penyebab seperti yang kita lihat:

Penyebab langsung dan utama dari perubahan iklim akibat ulah manusia adalah emisi gas rumah kaca (GHG) ke atmosfir dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,yang berasal dari peningkatan pembakaran bahan bakar fosil antara lain dari industri, perdagangan, transportasi dan keperluan militer. Pendorong utama perubahan iklim lainnya adalah penggundulan hutan, industri ekstraktif, degradasi hutan - tidak termasuk praktik perladangan berpindah masyarakat adat yang ramah lingkungan - gangguan siklus air, perluasan pencaplokan tanah untuk industri pertanian, peningkatan industri produksi daging dan jenis penggunaan sumber daya alam lainnya yang tidak berkelanjutan.

Tidak Imbangnya Kontrol dan Kepemilikan atas Sumber Daya

Penyebab langsung ini hasil dari suatu sistem ekonomi global yang tidak berkelanjutan yang dibangun di atas ketimpangan akses dan kontrol atas sumber daya planet yang terbatas dan manfaat yang diperoleh dari penggunaannya. Sistem ini didasarkan pada perampasan properti bersama di tingkat lokal, nasional dan planet bumi oleh elit lokal dan global. Apa yang telah dipuji sebagai langkah besar dalam kemajuan teknologi, produksi dan manusia, pada kenyataannya mendorong terjadinya bencana ekologis dan pembangunan secara global. Segelintir elit global masih terlibat dalam produksi berorientasi laba secara sembrono dan konsumsi yang terlalu berlebihan sementara sejumlah besar penduduk bumi tenggelam dalam kemiskinan dengan konsumsi yang hanya cukup untuk bertahan hidup  atau bahkan kurang dari itu. Situasi ini tidak hanya terjadi di negara-negara Selatan, tetapi juga di Utara. Perusahaan-perusahaan transnasional terbesar di dunia  terutama bermarkas di negara-negara Utara dan kawasan bebas pajak. Dengan  perluasan operasi sejak lama mereka mempelopori konsumsi yang berlebihan ini.

Kompetisi di antara perusahaan global dan negara-negara kaya akan sumber daya dan pangsa pasar yang lebih besar, serta perjanjian dan kesepakatan perdagangan, telah menyebabkan penindasan neo-kolonial terhadap bangsa-bangsa Selatan, menyangkal kepemilikan dan kontrol atas sumber daya mereka yang sah. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan lembaga-lembaga keuangan internasional, serta Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) menggunakan perjanjian perdagangan bilateral, meningkatkan privatisasi dan komoditisasi sumber daya publik, mengintensifkan penjarahan sumber daya alam dari negara-negara terbelakang dan memaksakan syarat-syarat yang meningkatkan ketergantungan mereka.

Pola Berpikir yang Berlaku dan Alternatif

Model pembangunan yang dipromosikan lembaga-lembaga tersebut tidak hanya soal 'ekonomi'. Paradigma ekonomi yang berlaku sangat terkait dengan sistem pemikiran yang berlandaskan pada imajinasi manusia sebagai 'manusia ekonomi'. Ideologi ini diperkuat media korporasi dan perusahaan pemasaran yang mempromosikan egoisme, persaingan, konsumsi materi dan akumulasi kekayaan pribadi tanpa batas dengan sama sekali  mengabaikan konsekuensi sosial dan ekologi dari perilaku tersebut. Sistem pemikiran ini erat terkait dengan pola patriarki dan paternalisme.

Jika kita benar-benar ingin mengatasi krisis, kita perlu mengakui bahwa manusia adalah bagian dari alam maupun masyarakat dan tidak dapat bertahan hidup tanpa spesies yang lain. Karena itu, jika umat manusia ingin bertahan hidup, kita perlu menghormati integritas Bumi Pertiwi dan berjuang untuk mencapai keselarasan dengan alam dan untuk perdamaian di dalam serta antar budaya.

Kita adalah warga negara dunia dari  berbagai bangsa. Setiap orang berbagi tanggung jawab untuk kesejahteraan manusia dan kehidupan mahluk lainnya sekarang dan di masa depan . Semangat solidaritas manusia dan mahluk hidup lainnya ini diperkuat ketika kita hidup sesuai dengan prinsip "Manusia bagian dari mahluk hidup lainnya”.

4.Transisi yang adil dan berkelanjutan

Untuk memecahkan krisis iklim jelas membutuhkan transformasi luas, yang saat ini tidak masuk dalam agenda para pembuat kebijakan dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga multilateral. Rakyat menyerukan perubahan sistem, tidak berjalan seperti biasa  serta menolak penggunaan teknologi serta mekanisme pasar yang tidak kritis seperti yang didorong oleh kepentingan kekuatan yang menetapkan dan membatasi agenda iklim.

Gerakan rakyat tidak kekurangan visi alternatif bagi masyarakat dan langkah-langkah nyata yang harus diambil untuk menuju masa depan yang berkelanjutan sambil sekaligus menangani krisis iklim, air, pangan dan  ekonomi. Transisi yang berkelanjutan semacam itu akan dimulai oleh berbagai inisiatif. Beberapa langkah menuju transisi berkelanjutan adalah:

* Kedaulatan Pangan dan Pertanian Ekologi: Mendukung hak-hak rakyat, komunitas, dan negara untuk menentukan sistem produksi mereka sendiri termasuk kebijakan pertanian, perikanan, pangan, kehutanan dan tanah, yang tepat secara ekologis, sosial, ekonomi dan budaya yang sesuai dengan keadaan. Akses dan kontrol rakyat, terutama perempuan,  atas sumber daya produktif seperti tanah, benih dan air harus dihormati dan dijamin. Produksi pertanian secara prinsip harus mengandalkan pengetahuan lokal,  teknologi tepat guna dan  teknik-teknik yang berkelanjutan secara ekologis yang mengikat CO2 dalam sistem tanaman asli yang beragam, mengikat air dan mengembalikan lebih banyak zat hara ke tanah daripada yang dikeluarkan. Produksi pangan dan pertanian harus diarahkan terutama untuk memenuhi kebutuhan lokal, mendorong kemandirian, meningkatkan pekerjaan lokal, dan meminimalkan penggunaan sumber daya, limbah dan emisi gas rumah kaca dalam prosesnya.

* Kepemilikan Demokratis dan Kontrol Ekonomi: Pengaturan kembali unit produktif masyarakat  ke dalam bentuk kepemilikan dan pengelolaan yang lebih demokratis, untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti-penciptaan lapangan kerja, akses terhadap air, perumahan, tanah, kesehatan dan pendidikan, kedaulatan pangan, dan keberlanjutan ekologis. Kebijakan publik harus memastikan bahwa sistem keuangan melayani kepentingan publik dan menyalurkan sumber daya untuk industri transformasi berkelanjutan, pertanian dan jasa.

* Kedaulatan Energi: Pengurangan konsumsi energi secara drastis terutama di  negara-negara yang menjadi kaya secara tidak adil ditambah dengan gabungan sumber-sumber energi publik dan terbarukan seperti matahari, angin, panas bumi, mini-hydro, gelombang dan pembangunan distribusi listrik  (nirkabel)yang terdesentralisasi untuk mengamankan pasokan energi kepada masyarakat, dan kepemilikan publik atas listrik.

* Perencanaan zona perkotaan dan pedesaan yang ekologis: Tujuannya adalah pengurangan radikal input energi dan sumber daya serta output dari limbah dan polusi, sementara mendorong pasokan kebutuhan dasar warga berbasis lokal. Sebuah perencanaan perkotaan dan pedesaan dibangun atas 
dasar keadilan sosial dan layanan yang sama kepada semua mengurangi kebutuhan untuk transportasi. Mempromosikan sistem transportasi publik seperti sistem kereta berkecepatan tinggi dan ringan serta sepeda mengurangi kebutuhan kendaraan bermotor pribadi sehingga mengurangi kemacetan di jalan, meningkatkan kesehatan dan mengurangi konsumsi energi.

* Lembaga-lembaga pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya: Me-reorientasi penelitian publik dan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan lingkungan, untuk menggantikan sistem yang ada saat ini yang cenderung mendorong teknologi komersial dan berasas kepemilikan.  Penelitian dan pengembangan terutama harus merupakan sebuah upaya terbuka dan kolaboratif untuk kepentingan bersama umat manusia, serta menghilangkan hak-hak paten atas gagasan dan teknologi. Pertukaran teknologi tepat guna yang adil dan setara, pengetahuan tradisional dan praktik-praktik adat yang inovatif, serta gagasan-gagasan antar negara juga harus mendapat dorongan.

• Akhiri militerisme dan perang: Model pembangunan saat ini yang berbasiskan bahan bakar fosil mengarah pada kekerasan, perang dan konflik militer atas kontrol energi, tanah, air dan sumber daya alam lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh invasi dan pendudukan Irak dan Afghanistan yang dipimpin Amerika, militerisasi di seluruh dunia di daerah yang kaya bahan bakar fosil dan 
sumber daya alam lainnya. Petani dan masyarakat adat juga diusir dari tanah mereka dengan kekerasan untuk memberi jalan bagi perkebunan penghasil bahan bakar nabati (agrofuel). Triliunan dolar dibelanjakan untuk membangun kompleks industri militer, membuang-buang materi dan sumber daya manusia yang sangat besar, yang seharusnya ditujukan untuk menerapkan transisi yang berkelanjutan.

Dengan melangkah maju kita dapat belajar melalui praktik. Langkah-langkah ini akan membantu kita untuk meyakinkan sebagian besar masyarakat, bahwa transisi berkelanjutan men janjikan kehidupan yang baik dan bermakna. Bidang sosial, politik, ekonomi dan lingkungan hidup saling terkait erat. Karena itu strategi yang logis harus dibuat dengan mencakup semua, yang memang merupakan gagasan utama di balik konsep transisi berkelanjutan.

Salah satu aspek dari konsep ini adalah pemulihan masyarakat lokal dan bukannya pasar global sebagai satuan dasar sosial, politik dan ekonomi. Keterpaduan sosial, partisipasi demokratis, akuntabilitas ekonomi dan tanggung jawab ekologis hanya dapat dicapai dengan mengembalikan pengambilan keputusan kepada tingkatan terendah yang sesuai. Ini adalah pelajaran dasar yang telah kita pelajari dari budaya etnis dan masyarakat lokal.

Suatu pendekatan berbasis komunitas tidak bertentangan dengan kebutuhan akan kerjasama internasional yang luas. Sebaliknya, itu akan membutuhkan aliansi yang lebih kuat di dalam dan di lintas batas antara produsen langsung di bidang pertanian, kehutanan, perikanan dan industri. Aliansi juga dibangun atas kekuatan kesetaraan gender dan dengan mengakui serta  mengatasi ketidakadilan hubungan kekuasaan di semua tingkatan. Ini juga mencakup kebutuhan akan kerjasama regional dan internasional yang lebih kuat untuk mengelola sumber daya bersama seperti sumber daya air yang lintas batas. Lebih lanjut lagi, kerjasama internasional akan mempromosikan pertukaran yang saling menguntungkan akan gagasan, teknologi dan keahlian secara lintas batas-batas serta terlibat dalam dialog dengan wawasan terbuka  antara berbagai kebudayaan dengan sikap saling menghormati.

5. Jalan Menuju Transisi
Banyak orang terlibat dalam penciptaan praktis dari industri yang lebih berkelanjutan, pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor energi terbarukan. Selanjutnya, inisiatif-inisiatif ini dalam sistem telah membangun aliansi dengan sektor-sektor lain dalam masyarakat, serikat pekerja, konsumen, penduduk kota, guru, para peneliti yang semuanya berjuang menuju cara hidup yang berkelanjutan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Konferensi para Pihak (COP)
Kita perlu menyikapi perundingan PBB mengenai Perubahan Iklim, dan Konferensi Para Pihak yang ke15 (COP15) pada Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC). Pelajaran dari babak negosiasi sebelumnya sangat tidak menjanjikan. Meskipun skema aksi bersama yang diluncurkan pertama kali di Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Rio de Janeiro tahun 1992 dan kemudian di Kyoto protokol tahun 1997 menarik perhatian dunia, hasilnya tidak berarti dan masalah-masalah pun belum diselesaikan. Memang situasi memburuk karena prinsip-prinsip, sasaran-sasaran, dan  jadwal baik dari Konvensi dan Protokol hanya mencapai sedikit kemajuan.

Kepentingan perusahaan besar, yang sebagian besar bertanggung jawab sebagai penyebab krisis iklim, tampaknya memiliki pengaruh besar pada kebijakan iklim di tingkat nasional dan global. Kami sangat menentang pengaruh tidak demokratis dari lobi-lobi perusahaan dalam perundingan COP saat ini. Sebaliknya, kami menyerukan kepada negara-negara agar menempatkan mekanisme penilaian untuk semua kebijakan dan instrumen kebijakan di bawah UNFCCC, untuk memastikan proses multi-pihak yang inklusif dan  penuh pertimbangan yang memperbaiki kesenjangan yang ada apakah itu berdasarkan jenis kelamin, warna kulit, usia, cacat tubuh atau bentuk-bentuk diskriminasi lain dalam perundingan COP. Kami menuntut COP15 untuk mencapai kesepakatan yang akan memulai pemulihan keseimbangan lingkungan, sosial dan ekonomi planet bumi dengan cara yang berkelanjutan dan setara secara lingkungan, sosial dan ekonomi, dan akhirnya muncul dengan perjanjian yang mengikat secara hukum.

Tuntutan Kami

Kami menyerukan kepada para pemimpin di UNFCCC untuk membawa tuntutan dan alternatif dari masyarakat.
1. Menghentikan secara bertahap bahan bakar fosil: Kami menyerukan strategi yang jelas untuk meninggalkan era bahan bakar fosil dalam 30 tahun mendatang, yang harus mencakup tonggak capaian spesifik untuk periode setiap 5 tahun. Kami menuntut pemotongan dengan segera emisi gas rumah kaca negara-negara industri sekurang-kurangnya 40% dibandingkan level tahun 1990 per tahun 2020.

2. Reparasi dan kompensasi untuk hutang dan kejahatan iklim: Kami menuntut reparasi penuh bagi negara-negara Selatan dan yang dimiskinkan oleh negara-negara Utara, korporasi trans-nasional, serta lembaga-lembaga bebas pajak. Dengan ini, kami menyikapi sebagian ketidakadilan historis yang terkait dengan industrialisasi yang tidak adil dan perubahan iklim, yang berasal-usul dari genosida negara-negara adat, perdagangan budak transatlantik, zaman kolonial dan pendudukan. Hal ini harus disertai strategi yang sama jelasnya untuk pelunasan utang ekologis dan iklim bagi masyarakat miskin oleh negara-negara kaya  .

Dana global dan demokratis harus dibentuk untuk memberikan dukungan langsung kepada para korban perubahan iklim. Negara-negara maju harus memberikan pendanaan baru, bersifat wajib, tepat, dan dapat diandalkan serta bebas paten teknologi supaya dapat lebih beradaptasi terhadap dampak iklim yang merugikan dan melakukan pengurangan emisi. Hal ini akan memungkinkan negara-negara berkembang untuk berperan dalam pengendalian perubahan iklim, sementara itu juga masih dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi rakyat mereka. Lembaga-lembaga Keuangan Internasional, lembaga donor dan mekanisme perdagangan seharusnya tidak mempunyai bagian dalam reparasi ini.

3. Larangan segera secara global terhadap deforestasi hutan alam dan peluncuran program  penanaman pohon spesies asli dan beragam secara global  bekerjasama dengan masyarakat adat dan masyarakat yang bergantung pada hutan. Demikian pula larangan terhadap penangkapan ikan dalam industri berskala besar dan kembali ke praktek penangkapan ikan secara lokal dan berkelanjutan. Akhirnya, larangan terhadap pencaplokan lahan untuk kepentingan asing dan pengakuan penuh kedaulatan rakyat atas sumber daya alam.

4. Kami menolak keras solusi-solusi palsu dan berbahaya yang murni berorientasi pasar dan berfokus pada teknologi  yang diajukan oleh banyak perusahaan, pemerintah, dan lembaga keuangan internasional. Ini termasuk energi nuklir, bahan bakar nabati (agrofuel), penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage), Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanisms), biochar, tanaman rekayasa genetik "siap-iklim", geo-engineering dan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan menurut definisi UNFCCC (REDD), yang hanya menghasilkan ancaman lingkungan baru, tanpa benar-benar memecahkan krisis iklim. Perdagangan karbon dan offsetting juga merupakan perangkat yang palsu dan tidak adil karena memperlakukan –atmosfer sebagai komoditas yang dapat dimiliki dan diperdagangkan. Sejauh ini sistem tersebut belum terbukti manfaatnya, dan dengan membiarkan negara-negara kaya untuk mengalihkan kewajiban pengurangan emisi mereka dengan cara offset, artinya memelihara sistem yang tidak adil dan tidak berkelanjutan ini.

5. Pajak yang Adil atas emisi karbon: Daripada rezim kuota emisi yang diperdagangkan kami menuntut pajak yang adil atas emisi karbon. Pendapatan dari pajak karbon ini harus dikembalikan secara merata kepada masyarakat, dan sebagian harus digunakan untuk kompensasi dan berkontribusi untuk pembiayaan adaptasi dan mitigasi. Namun hal ini tidak menggantikan  pembayaran kembali hutang iklim yang sudah menumpuk. Kompensasi dan dana ini harus tanpa syarat dan bebas dari mekanisme pasar serta campur tangan lembaga keuangan. Pengurangan emisi harus didorong dengan kuat oleh pajak karbon yang transparan dan progresif, selain peraturan-peraturan yang  mendorong proses penghentian bertahap bahan bakar fosil, sambil memberdayakan  energi yang aman, bersih dan terbarukan.

6. Lembaga multilateral dan korporasi trans-nasional: Lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan global yang tidak adil, tidak berkelanjutan dan tidak akuntabel/bertanggung-gugat seperti WTO, Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), bank-bank pembangunan regional, lembaga donor dan perjanjian perdagangan harus diganti dengan lembaga-lembaga demokratis dan adil yang berfungsi sesuai dengan Piagam PBB, yang menghormati kedaulatan rakyat atas sumber daya, serta meningkatkan solidaritas antar masyarakat dan bangsa-bangsa. Mekanisme untuk pengawasan ketat dan pengendalian operasi perusahaan-perusahaan trans-nasional juga harus dibuat.

Akhirnya, kami bersepakat untuk terlibat penuh dan aktif dalam melakukan transisi berkelanjutan dalam  masyarakat kita sesuai dengan isi Deklarasi ini.

Sebuah gerakan global untuk transisi berkelanjutan
Terlepas dari hasil KTT Kopenhagen mengenai Perubahan Iklim ada kebutuhan mendesak untuk membangun sebuah gerakan global dari segala gerakanuntuk mengawal tugas jangka panjang mempromosikan transisi berkelanjutan masyarakat kita. Tidak seperti struktur kekuasaan yang ada sekarang, gerakan ini harus tumbuh dari bawah ke atas.

Yang dibutuhkan adalah sebuah aliansi luas dari gerakan lingkungan, gerakan sosial, serikat buruh, petani, dan pihak lain yang sejalan untuk dapat bekerjasama dalam perjuangan politik sehari-hari di tingkat lokal, nasional maupun tingkat internasional. Aliansi seperti itu pada saat yang sama berisi penciptaan pola pikir baru dan aktivitasme sosial jenis baru, serta harus mampu tidak hanya bereaksi terhadap praktik-praktik tidak berkelanjutan, tetapi juga menunjukkan dengan memberi contoh bagaimana ekonomi baru yang berkelanjutan memang bisa berfungsi.

Kami, masyarakat, komunitas dan organisasi sosial yang berpartisipasi di Klimaforum09 berkomitmen untuk melanjutkan hasil yang dicapai pada acara ini dikembangkan dalam gerakan global atas berbagai pergerakan.

Deklarasi ini bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi pengembangan lebih lanjut pergerakan tersebut dengan arah-arah umum yang kita pilih. Bersama-sama kita bisa membuat transisi global untuk masa depan yang berkelanjutan. Bergabunglah dengan kami!

Hormat Kami,


Powered by Facebook Comments
Last Updated ( Wednesday, 16 December 2009 21:35 )  

Menu

Login

Follow us on Twitter

Berbagi Buku

Download Area

Workshop Nasional Climate Change Marriot 26 Januari 2010 


 
download

You are here:

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday282
mod_vvisit_counterYesterday326
mod_vvisit_counterThis week959
mod_vvisit_counterLast week2289
mod_vvisit_counterThis month3248
mod_vvisit_counterLast month8820
mod_vvisit_counterAll days37398

Kliping Berita

Jakarta, Kompas - Akan ada penandatanganan perjanjian bantuan untuk pendanaan dalam kerangka perubahan iklim di Kopenhag...

Latest Visitors

Pengunjung Terakhir
IP VisitorWaktu
» 80-240-215-147.dnat.migtel.ru ago
» 4.static.118-96-217.astinet.telkom.net.id 3m ago
» fm-ip-118.136.206.34.fast.net.id 19m ago

Need Volunteers

Need Volunteers

Support H E L P

H E L P

Keadilan Iklim